AS Cabut Aturan Net Neutrality, Kesetaraan di Internet Terancam

Komisi Komunikasi Federal Amerika Serikat (FCC) memutuskan untuk mencabut regulasi tentang internet setara atau net neutrality pada Kamis (14/12). Pencabutan itu memungkinkan para penyedia jasa internet untuk bertindak diskriminatif. 

Keputusan itu disambut dengan respons yang beragam. Pasalnya, internet sudah menjadi bagian dalam kehidupan sehari-hari sehingga ada atau tidaknya aturan bisa mempengaruhi pengalaman berinternet setiap konsumen.

 

1. Net neutrality merujuk pada kondisi di mana internet jadi ruang terbuka dan netral.

Mengapa warga Amerika Serikat sangat memperdebatkan persoalan net neutrality? Alasan utamanya adalah karena net neutrality merupakan kondisi di mana internet menjadi ruang terbuka dan semua konten di dalamnya diperlakukan dengan adil.

Artinya, setiap pengguna internet berhak untuk mengakses informasi apapun tanpa intervensi dari penyedia layanan internet. Intervensi yang dimaksud bisa berupa pemblokiran atau penurunan akses ke situs-situs tertentu atau memprioritaskan konten spesifik yang sesuai dengan kepentingan penyedia layanan internet.

Situs internetnetral.org mengumpakan net neutrality seperti konsumsi listrik masyarakat. “Kita membeli listrik sesuai kapasitas yang ingin kita gunakan, namun listrik tersebut tidak dibeda-bedakan oleh PLN apakah digunakan untuk menyalakan kulkas, lampu, AC, televisi, hair dryer, dan sebagainya,” tulis mereka.

“Internet pun sama, seharusnya penyedia layanan internet tidak bisa melakukan diskriminasi atas akses internet kita berdasarkan tipe konten/website apa yang kita kunjungi. Semua konten di internet, baik itu foto lucu, forum diskusi, website belanja online, video klip, berita politik, harus diperlakukan sama dan dikirimkan ke perangkat kita tanpa diskriminasi,” tambah mereka.

2. Aturan soal net neutrality diresmikan di masa pemerintahan Barack Obama.

Meski istilah net neutrality sudah dimunculkan sejak 2003 oleh seorang profesor hukum dari Columbia University bernama Tim Wu, tapi baru pada Februari 2015 lalu FCC menyetujui regulasi untuk melindungi net neutrality.  Dalam regulasi tersebut internet diatur layaknya barang publik, di mana tidak boleh ada persaingan demi profit yang pada akhirnya akan merugikan pengguna.

3. FCC mencabut regulasi tersebut dengan tiga argumen utama.

Ketua FCC, Ajit Pai, membela keputusan untuk mencabut regulasi itu sejak sebelum voting dimulai. Dikutip dari CNN, menurut Pai pemerintah seharusnya “berhenti melakukan manajemen mikro terhadap internet”. 

Pai juga menegaskan bahwa bisnis yang tak teregulasi pada akhirnya akan melahirkan inovasi dan justru membantu perekonomian. Ia berpendapat bahwa ketiadaan regulasi itu akan menguntungkan pengguna internet itu sendiri.

“Kami sedang membantu para konsumen dan mempromosikan kompetisi. Penyedia layanan broadband akan memiliki lebih banyak insentif untuk membangun jaringan, terutama di area-area yang selama ini kurang dijangkau,” ujar Pai, seperti dilansir dari The New York Times.

4. Pihak yang pro memiliki alasan sendiri tentang net neutrality.

Perdebatan mengenai net neutrality sudah berlangsung cukup lama. Puncaknya terjadi selama setahun belakangan ketika kehidupan digital semakin mengakar. Menurut pihak yang pro, net neutrality penting karena internet kini bersifat sebagai sumber informasi yang sangat vital bagi semua orang.

Mereka juga mencontohkan bahwa perlindungan pemerintah untuk menjaga internet tetap netral diperlukan demi menjaga tumbuhnya inovasi. Misalnya, Facebook. Saat Mark Zuckerberg menciptakan media sosial tersebut ia memanfaatkan internet yang terbuka dan adil.

Dengan kata lain, Zuckerberg tak perlu khawatir apakah produknya akan diprioritaskan atau tidak oleh penyedia layanan internet. Ia juga tak perlu membayar sejumlah uang kepada mereka agar Facebook mudah diakses pengguna.

Ketiadaan regulasi berarti jika ada Zuckerberg lainnya di tahun mendatang, ia akan sulit untuk mempromosikan produknya, terutama jika produk itu dianggap kompetisi oleh penyedia layanan internet. Contoh lain adalah Netflix dan XFINITY.

XFINITY dimiliki oleh konglomerat telekomunikasi besar Amerika Serikat, Comcast. Baik Netflix maupun XFINITY adalah layanan streaming televisi berbasis internet. Jika internet tak netral, Comcast bisa memprioritaskan XFINITY dan menurunkan akses penggunanya terhadap Netflix.

 

Menyusul keputusan FCC, Netflix pun menyuarakan kekecewaannya melalui akun Twitter resmi mereka:

web 1

“Kami kecewa dengan keputusan untuk menghapus perlindungan #NetNeutrality yang diberlakukan di era baru inovasi, kreativitas & keterlibatan sipil. Ini adalah awal dari perang legal yang lebih lama. Netflix berdiri bersama para inovator, besar & kecil, untuk melawan peraturan FCC yang salah kaprah ini.”

 

5. Bagi yang kontra terhadap net neutrality, regulasi pemerintah disebut tak menguntungkan mereka dan konsumen.

Wakil presiden Comcast, David Cohen, yang menyambut baik pencabutan regulasi FCC menulis di sebuah blog bahwa,”Ada banyak misinformasi bahwa ini adalah ‘akhir dari dunia yang kita kenal saat ini’ untuk internet. Layanan internet kita tak akan berubah.”

Deregulasi internet, kata para pihak yang kontra net neutrality, bisa membuat korporasi semakin semangat untuk memberikan produk dan layanan terbaik mereka karena ada insentif berupa keuntungan, terutama bagi yang bersedia menjadi pelanggan premium.

 

Sumber: https://news.idntimes.com/world/rosa-folia/as-cabut-aturan-net-neutrality-kesetaraan-di-internet-terancam/full

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.