Media and Politics: An Exercise in Democracy

Media pada dasarnya memiliki fungsi sebagai alat untuk memperoleh informasi jika dilihat dari perspektif masyarakat. Sementara jika dilihat dengan menggunakan kacamata jurnalis, media dapat digunakan untuk memahami persepsi terhadap suatu isu yang terbentuk di masyarakat. Perkembangan media dewasa ini ditandai dengan kemunculan media sosial sebagai new media (media baru) yang mulai menjadi pesaing mainstream media (media utama). Pada Kamis, 20 Desember 2018 lalu Kedutaan Besar Australia mengadakan serial diskusi Big Ideas dengan mengangkat tema media baru dan kaitannya terhadap demokrasi. Diskusi ini mengundang dua jurnalis sebagai narasumber yakni David Lipson (ABC News Australia) dan Antony Lee (Kompas).

Menurut Antony Lee, media utama yang merupakan kunci terbentuknya demokrasi mengalami kemerosotan dengan adanya media baru. Media baru, dalam konteks ini adalah media sosial, telah mengubah metode penyiaran berita. Media sosial telah menggeser orientasi penyiaran sehingga berita tidak lagi berpatokan kepada validitas namun kepada kecepatan pemberitaan (quick report). Ini yang kemudian memunculkan pertanyaan bahwa bagaimana sebuah berita dapat diproduksi dan diverifikasi jika orientasinya adalah quick report.

David Lipson di satu sisi berpendapat bahwa semakin sedikit masyarakat yang mengakses berita dari media konvensional karena masyarakat telah beralih ke media sosial seperti Facebook dan Whatsapp. Beberapa orang bahkan mendapatkan berita hanya dari media sosial dan tidak terekspos dengan informasi lain. Keadaan tersebut cukup mengkhawatirkan mengingat media sosial dewasa ini dipenuhi dengan fake news dan hoax.

Terdapat setidaknya tiga cara menurut Antony Lee untuk mencegah terbentuk dan tersebarnya dengan luas fake news tersebut. Pertama adalah dengan membatasi dan menekan persebaran fake news melalui kontrol yang ketat terhadap media sosial. Ini dapat diwujudkan dengan memblokir konten yang diindikasi sebagai fake news. Kedua adalah dengan memberikan edukasi terhadap masyarakat. Menurut Antony, jika masyarakat memiliki pengetahuan yang lebih maka akan meminimalisir masyarakat terhadap paparan fake news. Ini didukung oleh peryataan Lipson bahwa semakin baik edukasi di masyarakat, maka semakin sedikit masyarakat yang akan mempercayai fake news. Ketiga, merupakan peran dan tanggung jawab media untuk untuk memberikan berita yang telah terbukti validitas dan kebenarannya.