Menakar Pilkada Jakarta

“Alangkah mengerikannya menjadi tua dengan kenangan masa muda yang hanya berisi kemacetan jalan, ketakutan datang terlambat ke kantor, tugas-tugas rutin yang tidak menggugah semangat, dan kehidupan seperti mesin, yang hanya akan berakhir dengan pensiun tidak seberapa.” Inilah kutipan budayawan Seno Gumira Ajidarma berjudul Menjadi Tua di Jakarta yang dipajang situs www.damniloveindonesia.com.

Kutipan ini terasa menggelitik bagi sebagian besar masyarakat Jakarta, terlebih mendekati ajang pendaftaran calon gubernur Jakarta, 21 September 2016. Harapan warga Jakarta untuk Jakarta yang lebih baik sangat tinggi dan harapan itu diletakkan warga di pundak gubernurnya. Soal gubernur Jakarta, sejarawan JJ Rizal pernah mengutip isi buku karya Susan Blackburn, Jakarta 400 Tahun (1982) pada acara diskusi di sebuah stasiun TV, “Soekarno telah memberi kado terakhir dan terbaik untuk Jakarta, bahkan Indonesia, namanya Ali Sadikin.”

 

Para Bakal Calon Gubernur

Pasca-Jokowi menjadi presiden dan menyerahkan tampuk kepemimpinan Jakarta pada wakilnya, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), konstelasi kepemimpinan Jakarta selalu hangat, bahkan terkadang panas. Berbagai kontroversi, program bagus, dan program tidak tepat yang dikeluarkan Ahok berperan dalam menjaga suhu politik di Jakarta. Ditambah lagi tindak tanduk dan ucapan Ahok yang meledak-ledak sering dianggap berbagai kalangan sebagai tidak santun punberperan sama, bagai menjadi kipas penjaga arang suhu politik Ibu Kota.

 

Penggusuran dan reklamasi pantai utara juga dianggap sebagian warga sebagai hal yang tidak pantas dilakukan Gubernur Ahok di Jakarta lantaran dianggap bertentangan dengan Jokowi semasa jadi gubernur Jakarta. Kondisi yang dimunculkan Ahok akhirnya memicu polemik di masyarakat untuk memiliki Jakarta yang lebih baik dari saat ini. Sejak saat itu muncullah para penantang Ahok di Jakarta yang walaupun menggunakan strategi berbeda, tapi kemungkinan besar tujuannya sama, menggantikan Ahok dan berusaha membuat Jakarta lebih baik.

 

Berbagai nama yang dianggap mumpuni muncul ke gelanggang mencoba mengambil hati partai politik untuk bisa diusung sebagai calon gubernur Jakarta. Nama-nama tangguh seperti ahli tata kota Marco Kusumawijaya, ahli hukum Yusril Ihza Mahendra, aktivis media massa Teguh Santosa, Wali Kota Pangkal Pinang Muhammad Irwansyah, Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini, pengusaha Sandiaga Uno, pemimpin BNN Budi Waseso, hingga mantan menteri Kabinet Kerja Rizal Ramli beredar di telinga warga sebagai penantang Ahok.

 

Belakangan hanya beberapa nama yang dianggap kuat. Lembaga survei Kelompok Diskusi dan Kajian Opini Publik Indonesia (KedaiKOPI) menyebut empat nama yang diyakini dapat menandingi keperkasaan Ahok di Jakarta. Nama-nama tersisa dijagokan untuk mengisi wakil gubernur Jakarta yang juga tidak kalah bergengsi.

 

Survei yang mengambil responden warga Jakarta seperti dikutip dari www.kedaikopi.co menempatkan Tri Rismaharini di posisi teratas, 70,5% responden yakin Risma mampu mengalahkan Ahok. Selanjutnya ada nama Rizal Ramli (34%), Sandiaga Uno (33%), dan Budi Waseso (19,5%).

 

Dari empat nama tersebut yang paling menarik adalah nama Rizal Ramli. Bila Tri Rismaharini resmi tidak akan maju ke Jakarta, Rizal Ramli dianggap sebagai sosok terkuat penantang Ahok. Kendati baru mendapat dukungan dari Partai Amanat Nasional (PAN), elektabilitas Rizal Ramli sudah melewati jagoan Gerindra yang sudah lebih dahulu berjibaku di kompetisi ini, Sandiaga Uno.

Nama Rizal Ramli muncul dan menguat pasca selesai menjalani tugas sebagai menko maritim di Kabinet Kerja.

 

Ada yang menyebut Rizal dizalimi Jokowi, diberhentikan dari Kabinet Kerja karena berseteru dengan Ahok pada isu reklamasi pantai utara. Ada yang berpikir positif, Rizal Ramli memang mendapat tugas baru dari Jokowi untuk membereskan Jakarta setelah dibikin berantakan oleh Gubernur Ahok.

 

Namun, apa pun itu, perjuangan para bakal, calon gubernur ini tidak mudah dalam menghadapi Basuki Tjahaja Purnama. Menurut hasil survei KedaiKOPI, elektabilitas Ahok masih paling tinggi dibanding dengan bacagub lainnya, 41,5%. Kendati angka ini yang terendah sejak survei awal 2016, kepuasan publik terhadap kinerja Ahok-Djarot masih tinggi, 67,3%.

 

Peluang Calon Alternatif

Sudah menjadi rahasia umum bahwa semua mata dan telinga pemilik hak suara mengarah pada PDI Perjuangan, partai politik yang mampu mengejutkan publik Indonesia dengan kader-kader potensialnya. Pada 2012 saat publik sudah yakin bahwa Fauzi Bowo akan juga mendapat tiket dari PDI Perjuangan tiba-tiba partai berlambang banteng ini mengusung Wali Kota Solo Joko Widodo.

 

Hasilnya, “JOSS”, Jokowi menembus mengalahkan Fauzi Bowo di Jakarta, bahkan akhirnya menjadi presiden ketujuh Indonesia. Hasil ini juga pasti diingat Gubernur Ahok yang hingga saat ini pun harap-harap cemas menanti dukungan PDI Perjuangan. Seperti publik pada 2012 yang sudah yakin PDI Perjuangan akan dukung petahana, tahun ini pun demikian. Opini publik sudah mengarah bahwa PDI Perjuangan akan kembali mendukung petahana Ahok-Djarot. Namun, apakah hal ini akan berubah? Hanya formulir pendaftaran KPUD yang akan mampu menjawabnya kelak.

 

Kondisi menunggu bagi warga Jakarta ini memang akhirnya harus dihubungkan dengan kepastian calon-calon yang akan maju. Maju-mundur bakal calon dan manuver partai politik diperhatikan publik sebagai ketidakpastian pilihan.

Kondisi menunggu kemudian berubah menjadi pertanyaan, menimbulkan opsi-opsi, dan mulai mempertimbangkan pilihan lain. Publik mulai terbuka dengan calon alternatif selain petahana.

 

Pada Agustus 2016, baru 74% responden yang menyatakan calon alternatif dapat mengalahkan petahana. Nah, September 2016 responden yang yakin calon alternatif dapat mengalahkan Gubernur Ahok meningkat menjadi 82,8%. Publik Jakarta tampaknya selalu kritis kepada gubernurnya. Bayangkan saja, kendati kepuasan publik sang gubernur tinggi, tetap saja publik Jakarta masih menyimpan sosok pilihan gubernur yang akan datang.

 

Bila benar koalisi PDI Perjuangan mengusung Ahok-Djarot di Pilgub Jakarta kelak, entah kombinasi apa yang akan diusung lawan mereka. Siapa pun calon anda masih punya peluang menghadapi Gubernur Ahok. Sebab, termasuk Ahok, belum ada calon yang pernah menang sebagai gubernur di Jakarta.

 

Penulis: Hendri Satrio, Founder Lembaga Survei KedaiKOPI Kelompok Diskusi dan Kajian Opini Publik Indonesia

Link: http://dreya.biz/u/ira

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.