Partisipasi Politik Masyarakat

Partisipasi masyarakat di dalam politik adalah salah satu indikator penilaian apakah sebuah negara dapat dikatakan demokratis atau tidak. Semakin tinggi tingkat partisipasi politik masyarakat merupakan sebuah tanda bahwa suara tiap golongan masyarakat terwakili di tingkat pemerintah. Bentuk dari partisipasi politik ini pun cukup bervariasi.

PEW Research kemudian melakukan survei untuk mengetahui partisipasi politik masyarakat. Survei ini dilakukan dengan tatap muka di 14 negara yang memiliki sistem politik yang berbeda-beda. Indonesia merupakan salah satu negara yang masuk ke dalam survei tersebut. Ke-13 negara lainnya adalah Kenya, Tunisia, Afrika Selatan, Filipina, Meksiko, Nigeria, Brasil, Yunani, Argentina, Israel, Polandia, Italia, dan Hungaria. Survei ini melibatkan 14.875 responden dari 14 negara.

Survei tersebut menemukan bahwa selain memilih dalam pemilu, beberapa orang melakukan partisipasi dalam bentuk lain. Partisipasi politik lebih tinggi dilakukan oleh generasi muda, masyarakat yang lebih teredukasi, masyarakat di sayap kiri, dan para pengguna media sosial.

Bentuk partisipasi politik yang dapat masyarakat lakukan berdasarkan survei ini diantaranya adalah: 1) Memilih dalam pemilu; 2) Menghadiri acara atau pidato kampanye; 3) Berpartisipasi dalam organisasi relawan; 4) Memposting komentar terhadap isu politik di dunia maya; 5) Berpartisipasi dalam protes yang terorganisir; 6) Mendonasikan dana untuk organisasi sosial dan politik.

Terdapat pula isu-isu yang mendapat perhatian atau sorotan khusus oleh masyarakat dan menjadi motivasi masyarakat untuk melakukan partisipasi politik. Isu-isu tersebut yakni diantaranya adalah layanan kesehatan, kemiskinan, serta pendidikan.

Untuk laporan penelitian selengkapnya bisa diakses di sini.

Sumber:

Pew Research