Populisme dalam Pemilihan Umum Indonesia dan Eropa

Populisme merupakan sebuah gerakan ideologis yang memprioritaskan kepentingan rakyat dan melawan elit-elit politik yang dianggap korup. Para sarjana kemudian mengkategorikan setidaknya terdapat dua populisme, yakni populisme sayap kiri dan populisme sayap kanan.

Populisme sayap kiri adalah populisme yang berkembang di Amerika Latin dengan retorika anti imperialisme dan menawarkan sosialisme sebagai pilihan alternatif.

Sementara populisme sayap kanan adalah populisme yang berkembang di Eropa dan Amerika. Berbeda dengan populisme sayap kiri, populisme ini menekankan prioritas terhadap nilai autoritarian dan nativisme. Dengan kata lain gerakan ini menekan imigran yang dianggap mengancam identitas dan homogenitas di masyarakat.

Dalam 20 tahun terakhir, suara populisme di Eropa meningkat tajam mencapai hingga tiga kali lipat pada saat pemilihan umum.

Pada Selasa (20/11/2018), Guardian merilis artikel mengenai penelitian suara populisme yang meningkat di pemilihan umum Eropa. Pertumbuhan suara partai populis sayap kanan di 31 negara Eropa cukup stabil dan secara konsisten meningkat sejak tahun 1998. Pada dua dekade yang lalu, partai populis hanya memiliki sedikit pemilih. Namun pada pemilihan umum baru-baru ini, satu dari empat pemilih memberikan suara untuk partai populis.

Temuan dari penelitian ini didapatkan enam bulan sebelum berlangsungnya pemilihan legislatif Eropa. Temuan tersebut kemudian memprediksi bahwa populisme sayap kanan akan kembali mengisi 751 kursi di parlemen.

Eropa bukan satu-satunya kawasan yang mengalami peningkatan suara populisme, setidaknya terdapat lima negara lainnya, yang dikenal memiliki tingkat demokrasi tinggi, namun executive power nya dikuasai oleh populis, yaitu India, Amerika Serikat, Brasil, Meksiko dan Filipina.

Menurut Cas Mudde, Professor Hubungan Internasional University of Georgia, setidaknya terdapat tiga latar belakang meningkat tajamnya populisme di Eropa. Pertama adalah terjadinya resesi yang hebat dan menyebabkan populis sayap kiri berkembang di Eropa bagian selatan. Kedua adalah krisis pengungsi yang mendorong tumbuh dan berkembang populis sayap kanan. Yang terakhir adalah transformasi partai non-populis menjadi partai populis khususnya yang terjadi di Polandia dan Hungaria (Fidesz and Law & Justice).

Sementara untuk populisme di Indonesia menurut Abubakar Eby Hara (Universitas Jember) yang dimuat dalam jurnal yang rilis Atlantis Press, Populism in Indonesia and its Threats to Democracy, terdapat setidaknya tiga populisme yang berkembang, yakni populisme Jokowi, populisme Prabowo dan populisme FPI. Namun tidak seperti populisme pada umumnya, populisme yang berkembang di Indonesia merupakan sebuah strategi politik yang digunakan untuk memperkuat posisi atau kedudukan dan memperoleh dukungan dalam pemilihan umum.

Populisme Jokowi adalah populisme teknoratik yang menggagas reformasi birokrasi. Dalam konteks ini, birokrasi diharapkan dapat bekerja dan melayani masyarakat dengan lebih baik lagi. Selain itu program populisme lainnya yang ditawarkan oleh Jokowi adalah program pendidikan dan kesehatan gratis.

Sementara populisme Prabowo menawarkan program afirmasi untuk kelompok masyarakat seperti petani dan nelayan. Berdasarkan populisme Prabowo, yang dikategorikan sebagai “real people” adalah petani dan nelayan, sementara yang dikategorikan elit korup adalah orang-orang yang bekerja untuk cukong dan perusahan internasional yang mengeruk keuntungan di Indonesia.

Sama seperti populisme Prabowo, populisme FPI juga mengkategorikan cukong yang mendominasi Indonesia sebagai elit korup. Namun jargon utama dari populisme FPI ini adalah untuk mempersatukan umat muslim melawan kafir. Jargon ini digencarkan khususnya oleh FPI untuk melawan Basuki Tjahja Purnama atau Ahok dalam kasus penistaan ayat Al-Qur’an

Berdasarkan jurnal tersebut, ketiga populisme ini dapat diidentifikasikan sebagai populisme sayap kanan walau memiliki level ekstrimitas di bawah populisme Eropa.

 

Sumber: Berbagai Sumber