Puasa Mungkin Membuat Sel Tubuh Makin Kuat

Jakarta, 13 Juni 2018-Kelompok mahasiswa riset dan kedokteran dari Universitas Florisa mencoba melakukan penelitian yang bertujuan untuk mengetahui apakah puasa dapat menyebabkan sel tubuh semakin tangguh tehadap kerusakan yang diakibatkan dari hilangnya berat badan.

Para ilmuwan telah bertahun-tahun melihat kemungkinan manfaat kesehatan dari pembatasan kalori sebagai dampak ketika berpuasa. Manfaat penurunan berat badan dapat membayangi manfaat kesehatan puasa sendiri. Sebuah teori mengatakan bahwa manfaat kesehatan ini ada kaitannya dengan penurunan gula darah akibat puasa, yang mendorong sel tubuh kita bekerja lebih keras untuk memanfaatkan bentuk lain dari energi. Sebagai contoh adalah monyet Rhesus yang hanya makan 70 persen dari asupan kalori normal mereka, terbukti berumur lebih panjang dan jauh lebih sehat pada usia tua. Baru-baru ini, para ilmuwan juga menemukan dampak yang mirip pada manusia.

Satu cara sel kita bisa rusak adalah ketika terpapar stres oksidatif. Stres ini terjadi ketika terdapat produksi radikal bebas seperti spesies oksigen reaktif yang lebih tinggi dari biasanya. Molekul tak stabil ini membawa elektron yang sangat reaktif. Ketika salah satu radikal bebas ini bertemu molekul lain, ia akan mengambil atau melepas elektron. Hasilnya, ada reaksi rantai cepat dari molekul ke molekul, membentuk lebih banyak lagi radikal bebas, yang dapat memecahkan ikatan antaratom di dalam komponen penting dalam sel, seperti membran seluler, protein esensial atau bahkan DNA. Antioksidan bekerja dengan cara mentransfer elektron yang diperlukan guna menstabilkan radikal bebas sebelum mereka dapat merusak.

Puasa sepertinya dapat membantu sel kita melawan kerusakan akibat proses ini. Tetapi belum jelas persisnya bagaimana. Radikal bebas dapat dihasilkan dari mitokondria (penghasil tenaga bagi sel) yang berfungsi jelek. Ketika kita berpindah antara puasa dan makan normal, sel kita mengalami penurunan kadar glukosa (gula darah) sementara, sehingga mereka dipaksa mencari sumber energi lain yang tersedia, seperti asam lemak. Hal ini dapat menyebabkan sel untuk menyalakan proses bertahan hidup untuk membuang mitokondria yang tak sehat, dan menggantinya dengan mitokondria sehat, sehingga mengurangi produksi radikal bebas dalam jangka panjang.

Sumber: The Conversation

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.