Siapkah Jakarta Menyambut Gubernur Baru?

SEKILAS memang judul artikel ini mempertanyakan hal yang terlalu dini. Bagaimana tidak? Jangankan datang memilih di bilik suara, Komisi Pemilihan Umum (KPU) Jakarta saja belum menetapkan secara resmi siapa saja pasangan calon gubernur dan calon wakil gubernur yang akan berlaga di Pilkada Jakarta 2017 kelak.

Tapi, bila ditelaah lagi, judul di atas tidak terlalu dini. Ada berbagai alasan yang menjelaskan judul tersebut. Sejarah pilkada langsung di Jakarta mencatat belum pernah ada petahana yang sukses menjadi gubernur dua periode. Hasil survei Kelompok Diskusi dan Kajian Opini Publik Indonesia (KedaiKOPI) pada September 2016 lalu menyebutkan 82% publik Jakarta menyatakan bahwa calon alternatif bisa mengalahkan petahana.

 

Lingkaran Survei Indonesia (LSI) yang kemarin merilis hasil survei juga menunjukkan penurunan elektabilitas yang signifikan bagi Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) hingga di angka 31%. Padahal, survei KedaiKOPI pada September 2016 masih di level 39% dan memang turun dari survei Agustus 2016 di level sekitar 41%.

 

Gelanggang Ciptaan Megawati
Saat PDIP memutuskan untuk mengusung Ahok-Djarot, publik terhenyak–termasuk saya cukup kaget mendengar keputusan itu. Keputusan yang dianggap antiklimaks karena akhirnya PDIP memutuskan untuk memberikan tiket calon gubernur bukan kepada kadernya sendiri.

 

Ahok-Djarot pasti menang di Jakarta, itu pikir saya. Tapi nampaknya Megawati memiliki naluri politik berbeda. Patut dicitrakan bahwa Megawati paham betul dua rival politiknya tidak akan tinggal diam menyerahkan Jakarta begitu saja. Mega memaksa SBY dan Prabowo membuka kartu jagoan mereka lebih cepat.

 

Dipilihnya Agus Harimurti oleh SBY dan Anies Baswedan oleh Prabowo membawa dua keuntungan bagi Megawati, berisiko tapi risiko yang patut diperhitungkan. Megawati bisa menguji kekuatan Ahok beserta pendukungnya di internal PDIP, sekaligus menguji kekuatan PDIP di Pemilu 2019. Megawati sukses menciptakan gelanggang pertempuran yang sepadan bagi Basuki Tjahaja Purnama.

 

Antara Agus dan Anies
Nama Agus, Anies, Silvi pernah mampir di meja diskusi internal KedaiKOPI sebagai calon gubernur yang diperhitungkan bersama Rizal Ramli, Yusril Ihza dan Tri Rismaharini, walau akhirnya perlahan menghilang dari meja diskusi. KedaiKOPI menyisakan Sylviana Murni yang tetap di atas meja diskusi bersama Djarot, Saifullah, Yusuf Mansur, Teguh Santosa dan Marco sebagai yang berpotensial sebagai wakil gubernur.

 

Tapi tetap saja munculnya nama Agus dan Anies cukup mengejutkan. Kemunculan dua nama ini menghidupkan kembali aroma kompetisi di Jakarta. Munculnya dua nama ini saya jamin membuat Ahok berkeringat dalam kompetisi Pilgub Jakarta.

 

Nama Anies Baswedan mentereng di Jakarta sejak Pilpres 2014. Bahkan keputusan Presiden Jokowi untuk mengakhiri pengabdian Anies sebagai menteri di Kabinet Kerja menjadi kontroversi.

 

Di Jakarta Anies memiliki massa sendiri. Massa loyal yang tentu saja mampu menggerus suara Ahok di Jakarta. Suara Anies dan Ahok hampir mirip di Jakarta, suara pendukung Jokowi. Nah, bisa jadi suara pendukung Jokowi yang sering berteriak ”Jokowi Yes, Ahok No!” akan berpindah ke Anies Baswedan.

 

Bagaimana dengan Agus Harimurti Yudhoyono? Mayor Agus adalah komandan di kesatuan 203 Arya Kamuning. Publik saat itu langsung salut dan bertanya penuh keingintahuan, mengapa Agus yang disodorkan sebagai lawan Ahok?

 

Agus ini perhitungan matang partai pengusungnya. Agus secara alami memiliki brand kuat salah satu tokoh hebat negeri ini, Yudhoyono. Selain itu, Agus juga disosokkan sebagai orang muda, baru, bersih, dan memiliki citra disiplin yang kuat.

 

Suara kaum muda, para loyalis SBY, dan mungkin saja barisan Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah wajar bila diincar oleh pengusung Agus. Hingga kini hanya Agus Harimurti yang belum dikomentari oleh sang petahana, Ahok. Bisa jadi Ahok sungkan kepada Agus atau Ahok mungkin mengerti tidak ada bad publicity dalam politik, setiap komentar dia akan menguntungkan Agus karena hanya menambah kepopuleran anak tertua SBY ini.

 

Satu atau Dua Putaran
Pilkada Jakarta memang unik dibanding daerah lain. Di Jakarta gubernur terpilih membutuhkan 50%+1 untuk dinyatakan menang. Nah, hingga saat ini hasil berbagai survei, termasuk survei KedaiKOPI, belum menunjukkan satu pun calon yang berhasil meraih 50%+1.

 

Artinya, kemungkinan besar Pilgub Jakarta akan berlangsung dua putaran. Pemenang kompetisi ini akan diumumkan Mei 2017 mendatang. Basuki Tjahaja Purnama memang masih menjadi unggulan. Tingkat kepuasan publik terhadap Ahok juga masih cukup tinggi, tapi ini belum jaminan dirinya lolos ke putaran kedua, apalagi menang.

 

Ahok dan Anies akan menilai Agus sebagai kuda hitam yang sangat diperhitungkan. Keduanya pasti berusaha agar Agus tidak lolos ke putaran kedua. Sebab, bisa jadi, bila Agus lolos ke putaran kedua, sosok anak muda berusia 38 tahun ini akan membuat kejutan di Jakarta.

 

Pilihan ada di tangan para pemilik suara. Saat ini semua calon berstatus sama, tidak ada yang pernah menang sebagai gubernur Jakarta. Publik tidak hanya akan melihat pertarungan episentrum Teuku Umar-Cikeas-Hambalang. Tapi publik juga akan menantikan kepada siapa aroma Jokowi yang masih sangat kuat hinggap di salah satu calon. Jokowi dikenal sebagai tokoh cerdik yang sulit ditebak, jadi bisa jadi tebakan kita tidak tepat.

 

Akhirnya kita yang harus memutuskan, sosok tokoh baru sebagai gubernur Jakarta atau sosok pengganti gubernur hasil Pilgub 2012 lalu.

Sumber : nasional.sindonews.com/read/1144640/18/siapkah-jakarta-menyambut-gubernur-baru-1475628658/2

Hendri Satrio
Founder Lembaga Survei KedaiKOPI,
Kelompok Diskusi dan
Kajian Opini Publik Indonesia,
Akademisi Universitas Paramadina

 

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.