Sosiologi Kognitif Jelaskan Mengapa Pilihan Tiap Orang Bisa Berbeda dalam Pemilu

Subaidi, warga Sokobonah, Sampang, Madura, Jawa Timur, merupakan seorang pendukung calon Presiden dan Wakil Presiden Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno. Pada 21 November lalu, seorang simpatisan pasangan Joko Widodo dan Kiai Ma’ruf Amin menembak Subaidi dengan menggunakan senjata rakitan hingga mengakibatkan hilangnya nyawa Subaidi. Berdasarkan peristiwa tersebut dapat kita lihat bahwa polarisasi politik di tengah masyarakat menjelang pemilihan presiden 2019 semakin menguat. Mengapa polarisasi politik yang sedemikian rupa dapat terbentuk dan menguat di masyarakat? Sosiolog kognitif, Eviatar Zerubavel, menjelaskan latar belakang terbentuknya polarisasi politik tersebut dalam karyanya yang berjudul Social Mindscapes yang dimuat oleh Pacific Standard.

Zerubavel menjelaskan bahwa setidaknya terdapat tiga cara manusia dalam berpikir. Pertama, manusia berpikir secara individual dengan memposisikan dirinya sebagai individu yang utuh, dimana pemikiran manusia tidak dipengaruhi oleh lingkungan eksternal (individuals). Kedua, manusia berpikir dengan cara memposisikan dirinya sebagai manusia itu sendiri (human beings). Ketiga, manusia berpikir dengan memposisikan dirinya sebagai anggota dari sebuah kelompok sosial (social).

Cara manusia berpikir sebagai anggota kelompok sosial kemudian mempengaruhi pemikiran manusia itu sendiri. Pemikiran manusia akan dipengaruhi oleh kelompok sosial dimana ia berasal. Oleh Zerubavel ini kemudian diberi nama dengan thought communities—kelompok sosial yang terdiri dari orang-orang yang pemikirannya satu spektrum. Kelompok sosial ini akan membentuk informasi apa yang kita dapatkan dan argumen apa yang akan terbentuk.

Menurut Zerubavel, terbentuknya cara berpikir tiap orang akan sangat berbeda tergantung dari kelompok sosial mana ia berasal. Dengan kata lain, cara berpikir seseorang dari kelompok A tentu akan sangat berbeda dari seseorang dari kelompok B. Zerubavel memberikan sebuah contoh dalam polarisasi politik yang terbentuk dari pemilihan umum di Amerika Serikat. Pendukung partai Demokrat tidak bisa memahami bagaimana cara berpikir para pendukung partai Republik karena mereka berasal dari kelompok yang berbeda. Begitu pula sebaliknya yang terjadi pada pendukung partai Republik terhadap pendukung partai Demokrat.

Thought communities ini mempengaruhi tidak hanya cara kita mendeskripsikan dunia yang kita lihat, tetapi juga mempengaruhi bagaimana cara kita melihat dunia.

Contoh lainnya adalah perbedaan bahasa tiap masyarakat di suatu negara dalam mendeskripsikan atau memberi nama suatu warna. Orang Rusia dinilai lebih baik dalam membedakan dan memberi nama jenis-jenis warna dibandingkan orang Inggris. Ini karena orang Rusia memiliki lebih dari satu kata yang digunakan untuk memberi nama warna. Sedangkan orang Inggris dinilai lebih baik dibandingkan orang Jepang dalam membedakan gradasi dari warna biru dan hijau. Ini disebabkan karena orang Jepang hanya mengenali satu kata untuk mendeskripsikan kedua warna tersebut.

Zerubavel kemudian sampai pada kesimpulan bahwa jika thought communities memiliki pengaruh yang cukup besar untuk membentuk persepsi masyarakat terhadap penamaan warna, tentu ini juga memiliki pengaruh terhadap cara berpikir manusia terhadap lainnya. Apa yang menjadi sorotan kita, kategori apa yang kita gunakan, apa yang kita ingat, atau bahkan persepsi kita terhadap waktu semuanya terbentuk oleh thought communities.

Polarisasi politik kemudian dalam hal ini termasuk peran dari thought communities dan fragmentasi media hanya akan membuat polarisasi ini semakin sulit untuk diminimalisir karena pada dasarnya cara berpikir manusia berbeda-beda.

Sumber:
Pacific Standard