Survei KedaiKOPI: Mimpi Anak Muda Buka Usaha Terbentur Sulitnya Cari Kerja, 74,7 Persen Mengaku Kesulitan

Survei KedaiKOPI: Mimpi Anak Muda Buka Usaha Terbentur Sulitnya Cari Kerja, 74,7 Persen Mengaku Kesulitan

JAKARTA – Membuka usaha sendiri menjadi pekerjaan impian terbanyak anak muda Indonesia. Namun, Survei Pemuda Indonesia 2026 dari Lembaga Survei KedaiKOPI mencatat 74,7 persen dari mereka menilai mencari kerja saat ini sulit, dengan “orang dalam” sebagai hambatan yang paling banyak disebut.

Survei itu digelar secara daring pada Rabu (23/9/2026) hingga Selasa (29/9/2026) terhadap 1.213 responden Gen Z dan Milenial berusia 17-45 tahun. Data dibobotkan dengan metode iterative proportional fitting (IPF).

Karena sampelnya non-probabilitas, hasil survei tidak memiliki margin of error dan dibaca sebagai gambaran pandangan responden.

Temuan bertema ketenagakerjaan ini dipaparkan oleh Kepala Riset Lembaga Survei KedaiKOPI Ashma Nur Afifah dalam tayangan di kanal YouTube Survei KedaiKOPI.

Ini merupakan seri pertama dari empat isu yang dibahas, yakni ketenagakerjaan, ekonomi, kebangsaan, dan partisipasi politik.

Usaha Sendiri Jadi Tempat Kerja Idaman

Saat ditanya profesi apa yang ingin dijalani, 32,8 persen responden menyebut pengusaha atau wirausaha. Pedagang menyusul dengan 7,1 persen. Profesi baru juga mulai muncul, seperti konten kreator (3,9 persen) dan pekerja IT atau data (2,4 persen).

Pilihan tempat kerja idaman pun serupa. Sebanyak 43,9 persen ingin bekerja untuk diri sendiri dengan membangun usaha. ASN atau instansi pemerintah dipilih 13,7 persen, sedikit di atas BUMN/BUMD (9,4 persen) dan perusahaan swasta nasional (9,3 persen).

“Jadi kita sudah lihat ada mulai pergeseran bahwa menjadi ASN atau PNS bukan lagi menjadi impian paling banyak gitu ya untuk para pemuda saat ini,” kata Ashma.

Terganjal Orang Dalam dan Batasan Usia

Mimpi itu berhadapan dengan pasar kerja yang dinilai sempit. Dalam skala 1 (sangat sulit) sampai 10 (sangat mudah), rata-rata penilaian responden atas kemudahan mencari kerja hanya 4,29. Yang menilai mencari kerja mudah cuma satu dari empat responden (25,3 persen).

Kebutuhan akan koneksi atau orang dalam menjadi hambatan yang paling banyak disebut (56,0 persen). Berikutnya lapangan kerja terbatas (48,0 persen), persaingan yang tinggi (41,3 persen), dan batasan usia (39,2 persen).

Paparan survei menyandingkan temuan itu dengan tingkat pengangguran terbuka (TPT). Per Mei 2026, TPT nasional tercatat 4,65 persen, tetapi TPT kelompok usia 15-24 tahun mencapai 17,37 persen.

Luar Negeri Dilirik, MBG dan Kopdes Kurang Diminati

Bekerja di luar negeri menjadi pilihan yang banyak dilirik. Sebanyak 75,2 persen responden ingin bekerja di luar negeri, terutama karena penghasilan yang lebih tinggi. Meski begitu, 77,8 persen menyatakan akan kembali ke Indonesia.

Program pemerintah yang membuka lapangan kerja baru justru kurang menarik. Hanya 36,8 persen responden yang tertarik bekerja di ekosistem Makan Bergizi Gratis (MBG), dan 30,6 persen yang tertarik bekerja di Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih.

Data yang dikutip KedaiKOPI mencatat MBG telah mempekerjakan sekitar 1,28 juta orang di 29.225 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Sebanyak 1.061 Kopdes yang sudah beroperasi juga membuka 18.000 lapangan kerja.

Tak Mau Sering Lembur, Khawatir Tergeser AI

Gaji tetap menjadi pertimbangan utama dalam memilih pekerjaan (63,5 persen). Namun, ketika dihadapkan pada dua pilihan, 77,6 persen responden memilih gaji standar dengan work-life balance ketimbang gaji tinggi tetapi sering lembur. Sebanyak 61,4 persen juga memilih gaji standar dengan kerja fleksibel.

Kecerdasan buatan (AI) sudah akrab dengan anak muda. Sebanyak 57,5 persen memakai AI minimal sekali seminggu, dan hanya 12,6 persen yang tidak pernah.

Kekhawatiran pun ada. Sebanyak 64,4 persen responden khawatir pekerjaannya tergantikan AI, dengan rata-rata skor 6,45 dari 10. Namun, baru 7,1 persen yang menganggap AI sebagai hambatan mencari kerja saat ini.

“Nah, tapi kami melihat memang karena pemakaian AI juga tinggi di kalangan pemuda bahwa ancaman ini lebih dipersepsikan sebagai ancaman yang terjadi di masa depan dibanding hambatan saat ini,” ungkap Ashma.

Rekomendasi Survei KedaiKOPI

Dari temuan itu, KedaiKOPI menyusun enam rekomendasi. Dua yang pertama menyasar rekrutmen: lowongan, kriteria, dan hasil seleksi diumumkan terbuka, terutama di instansi pemerintah dan BUMN, serta batasan usia yang tidak relevan dihapus.

KedaiKOPI juga mendorong perluasan magang dan pekerjaan tingkat pemula bagi lulusan SMA, SMK, dan perguruan tinggi. Pelatihan ulang soal AI diminta menyasar pekerja administratif dan perempuan, yang dinilai paling rentan tergantikan.

Bagi talenta yang bekerja di luar negeri, KedaiKOPI meminta disiapkan jalur kembali berupa penyaluran kerja dan modal usaha. Untuk MBG dan Kopdes Merah Putih, jenjang karier, standar upah, dan kepastian kerjanya diminta diperjelas.

“Yang kelima, jadikan kebijakan pemerintah khususnya dalam ini MBG dan Koperasi Desa Merah Putih sebagai jalur karir yang cukup layak,” ucap Ashma.

Facebook
WhatsApp
X
Telegram

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *