KPU Siapkan Tiga Cara Pemungutan Suara di Luar Negeri

Jakarta, 25 April – Tahapan menuju Pemilu 2019 sudah dimulai. Untuk memastikan semua warga negara Indonesia memenuhi syarat untuk memilih, Komisi Pemilihan Umum (KPU) mengumumkan sejumlah aturan, termasuk untuk warga negara Indonesia yang berada di luar negeri.

Untuk WNI yang berada di luar negeri, KPU menetapkan tiga cara pemungutan suara pada pemilu 2019 mendatang. Ketiga cara tersebut adalah datang langsung ke tempat pemungutan suara (TPS) di kantor perwakilan Indonesia yang berada di daerah setempat, memberikan suara melalui kotak suara keliling, serta dikirim menggunakan pos.

Cara pertama yang dapat dilakukan oleh WNI untuk memberikan suara mereka adalah datang langsung ke TPS di kantor perwakilan Indonesia yang berada di daerah setempat. Cara kedua adalah memberikan suara melalui kotak suara keliling. TPS dibawa lokasi-lokasi WNI banyak berada. Sementara cara terakhir yang dapat dilakukan adalah mengirimkan suara lewat pos, metode yang paling sering digunakan selama ini.

Untuk pemungutan suara, KPU akan melakukan pemungutan suara di luar negeri lebih awal dibandingkan pencoblosan yang dilaksanakan di dalam negeri. Menurut Komisioner KPU, Hasyim Ashari, pemungutan suara akan dilaksanakan pada tanggal 8-14 April 2019. Meski begitu, penghitungan suara akan tetap dilaksanakan sama seperti di Indonesia, yaitu 17 April 2019. Kebijakan ini dibuat untuk meningkatkan partisipasi WNI di luar negeri untuk memberikan suaranya ke TPS.

Selain itu, KPU juga menyiapkan beberapa strategi lain untuk menarik minat WNI untuk datang ke TPS. Salah satu strategi tersebut diantaranya adalah melaksanakan gathering, pagelaran budaya, konser musik serta acara kuliner khas nusantara.

Selain menarik minat untuk datang ke TPS, kegiatan ini juga dilaksanakan sebagai ajang silaturahmi antar WNI yang jauh dari kampung halaman.

Ketua Pokja Pemilu Luar Negeri, Wajid Fauzi, berharap dengan usaha-usaha yang dilaksanakan oleh panitia penyelenggara pemilu, target partisipasi pemilih di luar negeri pada 2019 nanti meningkat dibandingkan pada pemilu 2014. (Sumber: Liputan6.com)

KedaiKOPI: Gatot, Rizal, Susi, Anies dan TGB, 5 Besar Calon Presiden Alternatif

Jakarta, 25 April 2018 – Nama Gatot Nurmantyo, Rizal Ramli, Susi Pudjiastuti, Anies Baswedan dan Tuan Guru Bajang Zainul Majdi muncul dalam lima besar calon presiden alternatif yang dipikirkan masyarakat. Telesurvei yang dilaksanakan Lembaga Survei KedaiKOPI (Kelompok Diskusi dan Kajian Opini Publik Indonesia) terhadap 1033 responden di 34 propinsi menunjukkan, nama-nama ini muncul dalam top of mind responden jika Joko Widodo dan Prabowo Subianto tidak mencalonkan diri.

Responden diberikan pertanyaan terbuka, menurut Anda siapakah calon Presiden alternatif yang paling tepat jika Joko Widodo dan Prabowo Subianto tidak mencalonkan diri pada Pilpres 2019? Maka nama-nama yang muncul adalah; Gatot Nurmantyo (27,4%), Rizal Ramli (23,9%), Susi Pudjiatuti (9,5%), Anies Baswedan (9,4%), Tuan Guru Bajang Zainul Majdi (6,4%), Zulkifli Hasan (4,6%), Abraham Samad (2,3%), Muhaimin Iskandar (2,1%), Ahmad Heryawan (1,4%), sisanya menyebut nama lainnya dan belum memutuskan serta menyatakan tidak akan memilih.

Survei melalui telepon yang dilakukan pada 13 April – 16 April 2018 juga menanyakan tentang penerapan Pancasila dan Trisakti oleh pemerintah saat ini serta pendapat tentang permasalahan ekonomi, hukum dan toleransi saat ini.

Saat ditanya, dari 5 sila Pancasila, sila ke berapa yang paling belum mampu dijalankan oleh pemerintahan saat ini? Terbanyak menyebut sila kelima (48,4%). “Tiga alasan teratas sila kelima belum mampu dijalankan pemerintah, menurut responden adalah masih banyak ketidakadilan, ada kesenjangan sosial, dan ekonomi belum merata,” kata Founder KedaiKOPI Hendri Satrio.

Lalu sila dari Pancasila lain yang dianggap belum mampu dijalankan pemerintah menurut responden adalah sila ketiga (11,7%), sila keempat (8,1%), sila kedua (6,3%), dan terakhir sila kesatu (5,6%), sisanya menjawab tidak ada.

Responden juga menganggap pemerintah belum menjalankan Trisakti. Trisakti adalah konsep yang dicetuskan oleh Bung Karno dan dijanjikan oleh Joko Widodo pada kampanye politiknya ketika mencalonkan diri menjadi Presiden RI. Konsep-konsep dalam Trisakti adalah: berdaulat dalam politik, berdikari dalam ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan. “Pada saat ditanya, menurut Anda, apakah pemerintahan saat ini sudah menjalankan Trisakti? 48% menjawab belum, hanya 35% yang menjawab sudah, sisanya 17% menjawab tidak tahu,” jelas Hendri.

Responden juga ditanyakan mengenai memilih presiden baru untuk solusi masalah di bidang ekonomi, hukum dan toleransi.

Pada pertanyaan, menurut Anda, apa permasalahan ekonomi yang dihadapi oleh bangsa Indonesia saat ini? Responden menyebut banyak permasalahan ekonomi seperti kenaikan harga (43%) sebagai yang teratas, banyak pengangguran (19%), kemiskinan (8%), kesejahteraan kurang merata (3,1%) serta sisanya menyebut sejumlah masalah lainnya.

Pertanyaan tentang permasalahan ekonomi itu diikuti dengan, apa saran Anda agar Indonesia keluar dari masalah masalah tersebut? Pada lima jawaban teratas, responden menyebut menstabilkan perekonomian (33,1%), menciptakan lapangan kerja (22,8%), meningkatkan kesejahteraan masyarakat (11,9%), harus peduli dengan masyarakat (8,8%), dan pemerintah harus dapat mengatur pemerintahannya (4,1%). “Responden juga ditanya tentang, apakah memilih presiden baru adalah salah satu solusinya? 70,4% responden menjawab iya, 20% menjawab tidak, sementara 9,6% menjawab tidak tahu,” ujar Hendri.

Direktur KedaiKOPI Vivi Zabkie mengatakan, pertanyaan yang sama juga diajukan untuk bidang hukum dan tolerasi. Pada bidang hukum, tiga besar yang disebut sebagai masalah adalah penegakan hukum, korupsi di mana- mana, dan tidak adilnya hukum di Indonesia. Kembali responden ditanya, apakah memilih presiden baru adalah salah satu solusinya? 66,3% menjawab iya, 22,5% menjawab tidak, 11,2% menjawab tidak tahu.

Sementara untuk masalah toleransi, responden menyebut toleransi beragama yang sebagai masalah utama saat ini (27,7%). Kembali untuk masalah di bidang ini, responden ditanyakan apakah memilih presiden baru adalah salah satu solusinya? “Pada masalah toleransi, 59,6% menjawab iya untuk pertanyaan yang sama, tidak (24,4%), tidak tahu (16%),” kata Vivi.

Survei ini dilakukan terhadap 1033 responden di 34 propinsi dengan Margin of Error (MoE) +/- 3,05 % pada interval kepercayaan 95,0%. Responden adalah masyarakat Umum (calon pemilih berusia >17 tahun atau sudah menikah) yang diwawancarai melalui sambungan telepon.

Hasil survei selengkapnya bisa dilihat di sini.

Vonis 15 Tahun Penjara untuk Setya Novanto

Jakarta 24 April 2018 – Majelis hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta menghukum mantan Ketua DPR Setya Novanto 15 tahun penjara, Selasa (24/4). Selain vonis penjara, Setya Novanto juga diwajibkan membayar denda Rp 500 juta subsider 3 bulan kurungan serta membayar uang pengganti 7,3 juta dollar AS dikurangi Rp 5 miliar yang telah dititipkan kepada penyidik.

Keputusan ini dibacakan ketua majelis hakim Yanto ini lebih ringan dari tuntutan jaksa, yakni pidana 16 tahun penjara dan membayar denda Rp 1 miliar subsider 6 bulan kurungan.

Majelis hakim juga mencabut hak politik Novanto selama lima tahun setelah selesai menjalani masa pidana. Hal itu sesuai tuntutan jaksa KPK. Majelis hakim sepakat dengan jaksa Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) perihal penolakan permohonan justice collaborator yang diajukan terdakwa Setya Novanto. “Karena penuntut umum menilai terdakwa belum memenuhi syarat sebagai justice collaborator, majelis tidak dapat mempertimbangkan permohonan terdakwa,” ujar hakim Anwar saat membacakan pertimbangan putusan.

(sumber:kompas.com)

Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Diperkirakan Tetap di Kisaran 5%

Jakarta, 24 April 2018 – Pertumbuhan ekonomi Indonesia diprediksi tetap berada pada kisaran 5 persen secara tahunan (yoy). Lembaga kajian Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia memprediksi, pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini dapat mencapai 5,1 hingga 5,2 persen.

Prediksi tersebut, kata Direktur Eksekutif CORE Indonesia Mohammad Faisal, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi pada tahun 2017 yang mencapai 5,07 persen.
Meski demikian, prediksi itu berada di bawah target pemerintah, yakni 5,4 persen. “Melihat perkembangan ekonomi global dan domestik selama tiga bulan pertama tahun ini, CORE Indonesia memprediksi pertumbuhan ekonomi pada kuartal I masih berada pada kisaran 5 persen,” ujar Faisal pada acara CORE Quarterly Review di Jakarta, Selasa (24/4/2018) seperti dimuat situs kompas.com.

Faisal mengungkapkan, pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa saja akan sulit mencapai angka 5,2 persen. Ini dapat terjadi apabila tidak ada perbaikan kebijakan secara signifikan. Baca juga : Sri Mulyani Ungkap Momentum pada 2018 yang Bisa Dorong Pertumbuhan Ekonomi Menurut Faisal, ada sejumlah tantangan besar yang harus dihadapi Indonesia untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi 5,1 hingga 5,2 persen. Salah satunya adalah potensi pelemahan kinerja ekspor-impor, yang mengakibatkan pelemahan kontribusi net-ekspor terhadap pertumbuhan eknomi tahun ini.

“Padahal net-ekspor berperan sangat besar dalam mempertahankan pertumbuhan ekonomi tetap di 5 persen pada 2017, saat pertumbuhan konsumsi rumah tangga melemah hingga di bawah 5 persen,” ungkap Faisal. Ia menyebut, pemerintah harus menggenjot konsumsi, khususnya konsumsi swasta. Pada saat bersamaan, penyaluran bantuan sosial (bansos) pun harus dilakukan secara berkesinambungan. Dengan demikian, tidak hanya konsumsi masyarakat menengah ke bawah yang terjaga, namun juga konsumsi masyarakat menengah ke atas. Sebab, konsumsi masyarakat menengah ke atas juga memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap konsumsi secara keseluruhan.

(sumber: kompas.com)

SANG SURA, Maskot Pemilu 2019

Jakarta 23 April 2018 – Kenalkan, namanya SANG SURA. Ia adalah maskot Pemilu 2019. Kehadiran SANG SURA yang merupakan akronim Sang Surat Suara ini diperkenalkan KPU pada akhir pekan lalu (21/04). Selain memperkenalkan maskot, KPU juga meluncurkan jingle Pemilu 2019.

SANG SURA berbentuk surat suara dengan paku pencoblosannya. Seperti dimuat dalam website www.kpu.go.id  SANG SURA mempunyai kesan tegas namun sekaligus ramah. Tegas dan kuat diwakili oleh garis-garis atau stroke yang tebal, kemudian ramah diwakili oleh ekspresi yang optimis dan penuh semangat.

Sementara jingle Pemilu 2019 berjudul “Pemilih Berdaulat Negara Indonesia Kuat.” Lagu ini diciptakan oleh L Agus Wahyudi dengan aransemen digarap oleh Eros (Sheila On 7). Kikan (eks vokalis Cokelat) didapuk menyanyikan jingle ini. (Sumber: www.kpu.go.id)

Motor besar, sneaker dan jaket jins: Jurus pencitraan Jokowi untuk memenangkan hati pemilih pemula di 2019

Tulisan berikut mengulas tentang strategi pencitraan Jokowi. Jokowi dinilai telah melakukan perubahan strategi rebranding untuk memenangkan pilpres.  Tulisan ini sebelumnya dimuat di The Conversation Indonesia.

Ika Krismantari, The Conversation

Foto dan video Presiden Joko “Jokowi” Widodo naik motor gede berlapis emas sambil memakai jaket denim dan sepatu Vans Metallica ramai diperbincangkan banyak orang di media sosial. Sebuah meme yang menggambarkan Presiden Jokowi dengan jaket denim seolah-olah seperti Dilan, tokoh utama di sebuah film remaja yang mengetop beberapa waktu yang lalu, langsung viral. Gelinya, meme itu juga dilengkapi kalimat pelesetan yang diambil dari film tersebut. Kalimat itu berbunyi : “Jangan Jadi Presiden. Berat. Biar Jokowi Saja” lengkap dengan tagar #Jokowi2019

 

 

Ini bukan kali pertama Jokowi memenangkan hati rakyat lewat media sosial. Semua aktivitasnya, termasuk aksi khas Jokowi blusukan, disebarkan lewat pesan media sosial dan mendapat respons positif dari masyarakat. Kegiatan Jokowi, mulai dari kegiatan kepresidenan sampai aktivitas sehari-hari seperti menonton film, pergi ke konser dan bermain dengan cucu terekam dengan baik di media sosial dan biasanya menjadi trending.

Jokowi yang berhasil memenangkan pemilihan presiden (pilpres) tahun 2014 dengan citra kesederhanaannya berniat memperpanjang masa jabatannya dengan memenangkan pemilu tahun 2019.

Ahli komunikasi politik melihat bahwa tingkah laku Jokowi di media sosial adalah salah satu strateginya untuk meraih suara pemilih muda di pemilu yang akan datang.

Nyarwi Ahmad dari Universitas Gadjah Mada dan Akhmad Danial dari Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta sepakat bahwa tontonan kegiatan sehari-hari Jokowi yang remeh temeh di media sosial adalah upayanya membangun citra agar tetap relevan bagi pemilih muda.

Pemilih muda itu penting

Jumlah pemilih muda di pilpres mendatang diperkirakan akan tetap signifikan.

Pada pemilu sebelumnya, pemilih muda, yang usianya berkisar antara 17 sampai 25 tahun, mencapai hampir 30% dari total jumlah pemilih. Tahun ini, Komisi Pemilihan Umum (KPU) telah memperkirakan bahwa jumlah pemilih akan mencapai 196,5 juta. Lembaga-lembaga survei pemilu telah memperkirakan bahwa persentase jumlah pemilih muda akan tetap berkisar antara 30% hingga 35% dari total jumlah pemilih untuk pilpres mendatang. Ini artinya, jumlah pemilih muda akan berkisar antara 60 atau 70 juta di tahun 2019, termasuk 7 juta pemilih pemula.


Baca juga: “Selera politik” pemilih muda Indonesia—partai lama, capres sipil


Nyarwi berargumen bahwa dengan perhitungan di atas, memenangkan suara dari pemilih muda menjadi penting buat Jokowi untuk memenangkan pilpres tahun 2019, mengingat dirinya hanya menang tipis dari saingannya Prabowo Subianto. Di pilpres 2014, Jokowi menang tipis dari Prabowo dengan marjin 9 juta suara.

Jika Jokowi bisa meraup tujuh juta suara pemilih muda, hal ini akan memberikan awal yang baik bagi Jokowi untuk menghadapi duel dengan Prabowo di pemilu yang akan datang. Prabowo baru saja mengumumkan bahwa dia mencalonkan diri sebagai presiden di pemilu 2019.

Namun, survei terkini menunjukkan bahwa Jokowi kurang populer dibanding Prabowo di antara anak muda dan di media sosial.

“Saya kira tim penasihat Jokowi sudah membisiki dia supaya berbuat sesuatu. Hal ini kemudian menjelaskan aksinya dengan motor gede dan yang lainnya di media sosial,” Akhmad berkata.

Cara Jokowi memenangkan suara milenial

Nyarwi menjelaskan bahwa pemilih muda memiliki karakter yang berbeda dengan pemilih yang lebih tua dan untuk memenangkan hari mereka, calon kandidat presiden harus mengenal mereka.

Dia menambahkan bahwa dalam mengenali karakter anak muda, tampaknya Jokowi sudah mengerjakan pekerjaan rumahnya dengan baik.

Tim kampanye Jokowi sadar akan adanya ikatan yang kuat antara anak muda dan media sosial dan mereka tahu benar bagaimana mengambil keuntungan akan hal tersebut. Selain memiliki akun Facebook and Twitter resmi, Jokowi memiliki video blog (vlog). Karena vlognya, Jokowi mendapat julukan the vlogging president, atau presiden yang suka membuat video blog.

“Dengan muncul di media sosial, dia ingin sedekat mungkin dengan calon pemilihnya,” Nyarwi berkata.

Skeptisisme anak muda yang tinggi pada politik merupakan hal lain yang perlu diperhatikan ketika mencoba berkomunikasi dengan para pemilih muda.

“Kandidat tidak ingin terdengar menggurui,” ungkap Nyarwi sambil merujuk pada strategi yang dilakukan Jokowi untuk menarik perhatian anak muda.

Nyarwi percaya bahwa Jokowi berhasil karena dia berbicara menggunakan bahasa anak muda.

“Tidak ada wacana yang berat, penekanan hanya pada gaya,” dia melanjutkan.

Pendekatan semacam ini dapat dilihat dari postingan Jokowi di media sosial yang ringan, seperti ketika dirinya berlatih tinju atau ketika dirinya beinteraksi dengan hewan peliharaannya. Meski nampak ringan, anak muda suka membicarakan postingan tersebut di internet

Strategi rebranding Jokowi untuk memenangkan pemilu

Selain untuk meraih suara pemilih muda, Akhmad berpendapat bahwa perubahan dalam strategi kampanye Jokowi dilakukannya untuk membuatnya tetap relevan di kalangan pemilih.

Dirinya yakin bahwa pencitraan Jokowi yang lama di tahun 2014 tidak lagi cocok diterapkan untuk pemilu yang akan datang.

Jokowi memenangkan suara rakyat di pilpres 2014 dengan menjual citra seorang pemimpin yang rendah hati, yang suka memakai baju dan sepatu murah dan berbicara dan bertindak selayaknya orang dari kalangan menengah ke bawah.

“Tapi setelah dia menjadi presiden pencitraan seperti itu tidak lagi laku. Dengan kekuasaannya, uang dan penjagaan 24 jam yang dimilikinya, Jokowi bukan lagi seperti kebanyakan orang,” Akhmad berkata.

Oleh karena itu, layaknya sebuah merek, Akhmad mengamati bahwa Jokowi telah melakukan perubahan strategi rebranding untuk memenangkan pilpres.

“Sebelumnya, Jokowi menjual citra sosok yang rendah hati. Tapi sekarang dia menjual citra seorang pemimpin yang muda dan energik,” lanjutnya.

Akhmad mengatakan citra Jokowi yang baru diciptakan untuk meraih suara millenial yang diyakini menjadi kunci kemenangan buat kandidat di pilpres 2019.

The Conversation

“Dengan citra yang baru, saya yakin slogan kampanye Jokowi yang lama ”Jokowi adalah kita“ akan berganti menjadi ”Jokowi, Gue Banget,“ ujarnya.

Ika Krismantari, Deputi Editor, Politik + Masyarakat, The Conversation

Sumber asli artikel ini dari The Conversation. Baca artikel sumber.

 

Reaksi Masyarakat Jawa Barat atas Kasus Puisi Sukmawati Soekarnoputri

Jakarta 17 April 2018 – Awal bulan lalu, dunia maya heboh oleh puisi yang dibacakan oleh Sukmawati Soekarnoputri. Puisi ini berujung pada pelaporan Sukmawati ke polisi oleh sejumlah organisasi karena dianggap menistakan agama.

Tak lama dari peristiwa itu, Lembaga Survei KedaiKOPI (Kelompok Diskusi dan Kajian Opini Publik Indonesia) mengumpulkan reaksi masyarakat atas kasus ini. KedaiKOPI melakukan survei terhadap 187 responden di Jawa Barat (mencakup 27 Kab/kota)  melalui telepon pada 5 sampai 8 April 2018.  Responden berusia 17 tahun keatas dan memiliki hak pilih.

Saat ditanya, apakah puisi Sukmawati merupakan ekspresi seni atau penistaan terhadap agama? terdapat 66,3% responden menjawab, penistaan agama.  15,1% mempersepsi kasus ini sebagai ekpsresi seni, 4,7% mempersepsinya sebagai antara ekspresi seni dan penistaan agama dan 2,3% menganggap puisi ini sebagai seni yang melenceng. Ada 11,6% yang menjawab tidak tahu.

Selanjutnya responden ditanya persepsi mereka terhadap permintaan maaf Sukmawati, setelah Sukmawati meminta maaf kepada publik, apakah cukup dimaafkan atau lanjut ke proses hukum? 50% responden berpendapat, dimaafkan namun proses hukum berlanjut. Lalu, sudah cukup dimaafkan dan selesai (44,2%), tidak dimaafkan dan proses hukum berlanjut (4,6%), terserah Tuhan (1,2%).

Survei ini dilakukan melalui telepon terhadap 187 anggota masyarakat umum (calon pemilih berusia diatas 17 tahun atau sudah menikah) yang tinggal di Jawa Barat dengan metode panel sampling. Margin of Error  (MoE) survei ini adalah  7,17% pada interval kepercayaan 95%.

Mulai Hari ini KPU Lakukan Coklit Serentak

Jakarta, 17 April 2018 – Komisi Pemilihan Umum (KPU) per hari ini memulai gerakan pencocokan dan penelitian (coklit) serentak terhadap data pemilih Pemilu 2019. Gerakan Coklit ini dilakukan hingga 17 Mei 2018. Pencocokan dan penelitian data data pemilih Pemilu oleh Panitia Pemutakhiran Data Pemilih (Pantarlih) dilakukan di 133 kabupaten/kota dari 514 kabupaten/kota seluruh Indonesia.

133 kabupaten/kota tersebut berada di 17 provinsi di luar 17 provinsi yang melaksanakan Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur. Diantara 17 provinsi tersebut termasuk DKI Jakarta, DIY, dan Papua Barat yang tidak melaksanakan Pilkada. Sesuai Peraturan KPU Nomor 11 Tahun 2018 tentang Penyusunan Daftar Pemilih di Dalam Negeri Dalam Pemilu, menyatakan daerah yang tengah mengadakan Pilkada 2018 tidak dilakukan coklit.

Dari 133 kabupaten/kota tersebut, jumlah Daftar Penduduk Pemilih Potensial Pemilu (DP4) sebanyak 32.693.688 pemilih dan jumlah Daftar Pemilih Tetap (DPT) terakhir sebanyak 30.683.686 pemilih. Berdasarkan data DP4 tersebut, jumlah pemilih pemula sebanyak 1.953.799 pemilih.

Sementara itu, coklit serentak yang juga dilaksanakan di luar negeri pada 130 kantor perwakilan RI dengan data DP4LN sebanyak 2.049.708 pemilih, sedangkan data DPTLN PPWP pada Pemilu 2014 sebanyak 2.038.711 pemilih (total jumlah pemilih melalui TPS, Pos, dan Drop). Jumlah Panitia Pemilihan Luar Negeri (PPLN) pada Pemilu 2019 sebanyak 536 orang.

KPU akan memantau langsung pelaksanaan Gerakan Coklit Serentak di luar negeri dengan melakukan Video Conference (Vicon) dengan kantor perwakilan RI di luar negeri. Vicon ini akan dilaksanakan pada pukul 10.00 WIB dari ruang Operation Room (Oproom) kantor KPU RI dengan Perwakilan RI di Kota Kinabalu, Manila, Seoul, Kuala Lumpur, Sydney, New York, Den Haag, Pretoria, dan Riyadh.
Bersamaan dengan kegiatan ini, pada tanggal 13 – 19 April 2018 juga akan dilaksanakan penetapan DPT bagi 381 daerah yang melaksanakan Pilkada 2018.

(sumber:www.kpu.go.id)

Angka Indeks Pembangunan Manusia di Indonesia Meningkat

Jakarta, 16 April 2018 – Angka indeks pembangunan manusia di Indonesia meningkat sebesar 0,63 poin atau tumbuh sebesar 0,90 persen dibandingkan 2016.  Pada tahun 2017, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia mencapai 70,81.

Dalam laporan BPS yang dirilis hari ini juga disebutkan bayi yang lahir pada tahun 2017 memiliki harapan untuk dapat hidup hingga 71,06 tahun, lebih lama 0,16 tahun dibandingkan dengan mereka yang lahir tahun sebelumnya. Anak-anak yang pada tahun 2017 berusia 7 tahun memiliki harapan dapat menikmati pendidikan selama 12,85 tahun (Diploma I), lebih lama 0,13 tahun dibandingkan dengan yang berumur sama pada tahun 2016.

Sementara itu, penduduk usia 25 tahun ke atas secara rata-rata telah menempuh pendidikan selama 8,10 tahun (kelas IX), lebih lama 0,15 tahun dibandingkan tahun sebelumnya. Pada tahun 2017, masyarakat Indonesia memenuhi kebutuhan hidup dengan rata-rata pengeluaran per kapita sebesar 10,66 juta rupiah per tahun, meningkat 244 ribu rupiah dibandingkan pengeluaran tahun sebelumnya.

(sumber: www.bps.go.id) 

KedaiKOPI: Elektabilitas Jokowi Tertinggi, Gatot Cawapres Favorit, TGB Paling Religius

Jakarta, 14 April 2018 – Elektabilitas Jokowi tertinggi, Gatot Nurmantyo Cawapres favorit, TGB Zainul Majdi paling religius. Ini tergambar dalam Survei Nasional Opini Publik 2018 Lembaga Survei KedaiKOPI (Kelompok Diskusi dan Kajian Opini Publik Indonesia) yang diluncurkan melalui live streaming (14/4).

Survei ini menampilkan elektabilitas sejumlah nama calon presiden dan wakil presiden. Joko Widodo saat disandingkan dengan sejumlah nama masih dominan (48,3%) diikuti Prabowo Subianto (21,5%), Gatot Nurmantyo (2,1%) lalu TGB Zainul Majdi, Anies Baswedan dan Agus Harimurti Yudhoyono yang sama-sama mendapatkan 1,1% suara. “Jadi jika Jokowi, rematch hari ini menghadapi Prabowo, maka ia tetap lebih unggul,” kata Founder Lembaga Survei KedaiKOPI Hendri Satrio.

Pada pertanyaan terbuka Jokowi juga berada pada posisi teratas top of mind masyarakat sebagai calon presiden (35,1%), sedang Prabowo berada posisi berikutnya dengan 12,0%. Lalu diikuti sejumlah nama lainnya, Gatot Nurmantyo (1,1%), Agus Harimurti Yudhoyono (0,7%), TGB Zainul Majdi (0,5%) dan SBY (0,5%). “Nama-nama lainnya tak sampai 0,5% ada Hari Tanoe, Anies Baswedan dan Edy Rahmayadi dan nama lainnya,” tambah Hendri.

Kepuasan masyarakat terhadap kinerja pemerintahan Joko Widodo masih tinggi. Sampai saat ini, 66,5% publik mengaku puas pada pemerintahan Joko Widodo  terutama pada bidang kesehatan, infrastruktur, pendidikan dan hubungan luar negeri. Hanya 33,5% yang menyatakan tidak puas.

Gatot Favorit, TGB Paling Religius
Sementara itu, Direktur Lembaga Survei KedaiKOPI, Vivi Zabkie mengatakan bahwa untuk posisi Wakil Presiden, Gatot Nurmantyo menjadi favorit. Saat ditanya, diantara nama-nama berikut siapakah yang akan Anda pilih menjadi Wakil Presiden Indonesia mendatang,  hasilnya publik memilih Gatot Nurmantyo (17,5%).  Lalu diikuti Agus Harimurti Yudhoyono (8,7%), Anies Baswedan (8,6%), TGB Zainul Majdi(6,2%), Abraham Samad (4,1%), Tito Karnavian (3,9%), Muhaimin Iskandar (1,7%), Rizal Ramli (1,1%) dan nama lainnya.

Saat publik diajukan pertanyaan terbuka, bila pemilihan presiden dilakukan hari ini, siapa yang akan anda pilih sebagai Wakil Presiden? 4,6% responden menyebut nama Gatot Nurmantyo.  Nama lain yang menempati top of mind publik sebagai calon wakil presiden adalah  TGB Zainul Majdi (4,4%) dan Agus Harimurti Yudhoyono (4,3%) . “Ini adalah tiga nama teratas yang dipikirkan masyarakat sebagai calon walaupun sebagian besar masyarakat belum memutuskan soal calon wakil presiden ini (53,5%),” jelas Vivi.  

Lewat survei ini masyarakat setuju jika presiden setidaknya memiliki 5 karakter ini; kompeten, jujur dan dapat dipercaya, perhatian terhadap rakyat, santun dan religius. “Dengan melihat karakter ini ada sejumlah nama yang dianggap mewakili, selain Jokowi, Prabowo dan Gatot, maka TGB Zainul Majdi masuk dalam kriteria ini,” tambah Vivi.

Rata-rata dari 5 karakter itu, Jokowi selalu menempati rangking pertama kecuali, kriteria religius yang predikatnya diberikan publik kepada Gubernur NTB TGB Zainul Majdi. “Publik berpendapat TGB Zainul Majdi sebagai pemimpin yang paling religius mengungguli Jokowi, Gatot, Prabowo, Abraham Samad, Agus Harimurti dan lainnya,” jelas Vivi.  

Survei KedaiKOPI juga memetakan pendapat publik soal calon kotak kosong atau jika calon presiden hanya ada satu tanpa pesaing. Mayoritas masyarakat tidak setuju jika pada pemilu presiden nanti hanya ada calon tunggal (62,9%), “Kotak kosong (52%) akan menjadi lawan terkuat Jokowi pada Pemilu 2019. Ini merupakan imbas ketidaksetujuan publik terhadap fenomena kotak kosong,” ujar Hendri.

Masyarakat juga menilai fenomena partai yang tidak mencalonkan presiden tapi malah ramai-ramai mengusulkan nama wakil presiden terjadi karena tidak berani berkompetisi dengan Jokowi (22,0%), gagal melakukan kaderisasi (18,7%) dan karena kurang berpengalaman (16,7%).

Pada elektabilitas partai politik, PDI Perjuangan memperoleh 20,1% ketika responden ditanya partai politik apa yang akan mereka pilih pada pemilu legislatif 2019 nanti. Diikuti Gerindra (9,5%), Partai Golkar (6,9%), Partai Demokrat (4,6%), PKB (4,6%), PKS (3,9%), PPP (3,6%), Partai Nasdem (3,5%), PAN (3,4%), Partai Perindo (3,3%), Partai Hanura (2,3%), PBB (0,2%). Sementara 3 partai baru berada urutan terbawah dengan hanya Partai Garuda mendapat suara (0,2%) dan PSI dan Partai Berkarya 0%.  Alasan pemilihan partai-partai ini utamanya berdasarkan program partai, tokoh/kader yang disukai serta ideologi/latar belakang partai.
 

Pemimpin Informal dan Isu Keagamaan
Survei yang dilakukan di 34 propinsi pada 19-27 Maret 2018 ini juga memetakan pemimpin informal di masyarakat dan sejumlah isu keagamaan.  Responden  menyebut Rizieq Shihab sebagai pemimpin umat Islam bersama dengan Abdullah Gymnastiar dan Abdul Somad.

Responden yang merasa perlindungan terhadap kebebasan beragama menjadi lebih baik pada pemerintahan Jokowi sebanyak 48%, sedang 41,5% menganggap sama saja dengan pemerintahan sebelumnya, 5,5% merasa lebih buruk. 87,5% merasa tidak was-was dalam beribadah namun ada 12,5% yang merasa was was dalam melaksanakan ibadahnya. Terdapat juga 13% masyarakat yang merasa ibadahnya dibatasi pada pemerintahan Jokowi.

Sedang menangapi isu cadar, 63,3% responden menganggap cadar tidak berafiliasi dengan kelompok radikal dan 54% menganggap pengguaan cadar tidak perlu diatur oleh pemerintah/sekolah/universitas.

Survei ini dilakukan terhadap 1135 responden di 34 propinsi dengan Margin of Error (MoE) +/- 2,97 % pada interval kepercayaan 95,0%. Responden adalah masyarakat Umum (calon pemilih berusia >17 tahun atau sudah menikah) dan dipilih dengan menggunakan metode Multistage Random Sampling dan diwawancarai dengan tatap muka (home visit).

Hasil lengkap survei ini bisa diunduh di sini.