Tak Cukup Lihat Jumlah Suara, LQ Bisa Membaca Basis Partai di Daerah

Tak Cukup Lihat Jumlah Suara, LQ Bisa Membaca Basis Partai di Daerah

JAKARTA – Hasil Pemilu 2024 tidak hanya dapat dibaca dari partai mana yang memperoleh suara terbesar di suatu wilayah. Data rekapitulasi yang ada sebenarnya menyimpan wawasan yang lebih dalam. Kita dapat melihat seberapa terkonsentrasi suara sebuah partai di suatu daerah dibandingkan dengan kekuatannya secara nasional.

Dalam analisis sebelumnya, Ashma Nur Afifah telah memetakan partai peraih suara terbanyak di setiap provinsi pada Pemilu DPR 2024. Pemetaan tersebut menunjukkan fakta menarik bahwa partai yang menang secara nasional belum tentu menjadi partai yang unggul di wilayah terbanyak.

Sebagai contoh, Golkar tercatat unggul di 13 provinsi, sementara PDI Perjuangan unggul di 11 provinsi meskipun berstatus sebagai peraih suara terbanyak secara nasional.

Namun, pemetaan berdasarkan jumlah suara mentah belum menjawab satu pertanyaan fundamental: apakah banyaknya suara menjamin sebuah partai memiliki konsentrasi suara yang relatif lebih kuat di suatu daerah dibandingkan performanya secara nasional?.

Untuk menjawab hal ini, salah satu pendekatan analisis spasial yang dapat digunakan adalah Location Quotient (LQ).

Mengenal Metode Location Quotient (LQ)

Location Quotient (LQ) merupakan metode analisis yang lazim digunakan dalam geografi ekonomi untuk melihat apakah suatu kategori lebih terkonsentrasi pada sebuah wilayah dibandingkan wilayah yang lebih luas (Wheeler, J. O., 2005).

Dalam konteks Pemilu 2024, LQ digunakan dengan membandingkan proporsi suara suatu partai di sebuah provinsi terhadap proporsi suara partai yang sama secara nasional. Untuk memudahkan pembacaan berskala indeks, perhitungan LQ dalam analisis ini dikalikan 100 dengan rumusan sebagai berikut:

Cara membacanya sangat sederhana:

  • LQ > 100 menunjukkan konsentrasi suara suatu partai di wilayah tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan proporsinya secara nasional.
  • LQ = 100 menunjukkan konsentrasi yang relatif sama.
  • LQ < 100 menunjukkan konsentrasi yang relatif lebih rendah.

Melalui pendekatan ini, jumlah suara bukan satu-satunya ukuran untuk membaca posisi sebuah partai. Suatu partai bisa saja memperoleh jutaan suara di sebuah provinsi, tetapi wilayah tersebut belum tentu menjadi daerah dengan konsentrasi suara yang tinggi jika dikomparasikan dengan performa partai tersebut di tingkat nasional.

Untuk Apa Pemetaan LQ Digunakan?

Bagi partai politik dan pengamat pemilu, informasi LQ dapat menjadi titik awal yang sangat baik untuk mengevaluasi kekuatan wilayah.

Daerah dengan LQ tinggi dapat dianalisis lebih lanjut untuk membedah faktor pembentuk konsentrasi suara, seperti kekuatan ketokohan kandidat, soliditas jaringan organisasi, karakter sosiologis pemilih, maupun pola dukungan elektoral pada pemilu sebelumnya.

Sebaliknya, wilayah dengan LQ rendah dapat menjadi bahan evaluasi untuk memahami titik lemah dan mengapa konsentrasi suara partai di daerah tersebut berada di bawah performa rerata nasionalnya.

LQ memang tidak serta-merta menjelaskan mengapa masyarakat memilih sebuah partai, tetapi metode ini menjawab pertanyaan yang lebih mendasar: di mana kekuatan relatif setiap partai sebenarnya terkonsentrasi?.

Anomali Jawa Barat: Jumlah Suara Tak Menceritakan Semuanya

Salah satu contoh aplikasi LQ dapat dilihat pada hasil perolehan suara di Jawa Barat. Berdasarkan pemetaan awal, Golkar tampil sebagai partai dengan perolehan suara DPR RI terbesar di provinsi padat penduduk tersebut. Namun, ketika data disandingkan dengan nilai LQ, gambaran peta kekuatan yang muncul menjadi jauh lebih dinamis.

Golkar memperoleh 4,29 juta suara dan sukses mencetak nilai LQ 106,7. Artinya, selain memiliki jumlah suara terbesar, Jawa Barat terbukti secara saintifik sebagai daerah dengan konsentrasi suara Golkar yang baik (berada di atas proporsi nasional mereka).

Akan tetapi, konsentrasi basis suara Golkar nyatanya masih lebih rendah dibandingkan dengan PKS. Meski PKS menempati urutan ketiga berdasarkan jumlah suara mentah (3,5 juta suara), partai ini memiliki performa LQ yang jauh lebih baik, yakni mencapai 158,2.

Sebaliknya, PDI Perjuangan (PDIP) yang meraup hampir tiga juta suara dan 11 kursi dari Jawa Barat justru mencatatkan LQ sebesar 67,9. Angka di bawah 100 ini menandakan bahwa terlepas dari besarnya perolehan suara mentah mereka, Jawa Barat sesungguhnya bukan daerah dengan konsentrasi basis massa PDIP yang kuat jika dikomparasikan dengan performa PDIP di daerah lain secara nasional. Hal ini membuktikan bahwa jumlah suara yang masif tidak selalu berarti wilayah tersebut adalah “kandang” bagi sebuah partai.

Pola anomali yang tak kalah menarik terlihat pada PPP, PSI, Partai Buruh, dan PBB. Keempat partai ini menempati posisi kesembilan ke bawah dan gagal memperoleh alokasi kursi DPR RI dari Jawa Barat. Kendati miskin kursi, keempat partai tersebut memiliki LQ di atas 100. Fakta ini menandakan bahwa wilayah Jawa Barat sebenarnya merupakan basis konsentrasi suara yang sangat baik dan prospektif bagi keempat partai tersebut.

Kesimpulannya, meraup banyak suara di suatu daerah belum tentu menunjukkan bahwa wilayah tersebut merupakan basis solid bagi sebuah partai. LQ membantu melihat apakah dukungan terhadap partai di suatu wilayah memang lebih kuat dibandingkan performanya secara nasional.

Jawa Barat hanyalah satu contoh nyata di mana peta jumlah suara dan peta kekuatan basis partai dapat menghasilkan temuan yang bertolak belakang.

Facebook
WhatsApp
X
Telegram

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *