Diskusi KedaiKOPI: Leadership adalah Jurus Jitu Penyelamatan Ekonomi Indonesia

Siaran Pers

Rangkuman Diskusi Virtual Ngopi Bareng Spesial Ramadhan: Misteri Jurus Jitu Ekonomi bersama Sandiaga Uno, Rocky Gerung, Hendri Satrio dan Ir. H. Kamrussamad, M.Si

Sandiaga Uno menjelaskan bahwa, “Indonesia saat ini sebenarnya sedang looking for leadership. Setiap kali ada satu peperangan, harus ada satu kepemimpinan yang membawa sisi kemanusiaan terbaik dengan menyampingkan perbedaan.” Faktor kepemimpinan adalah hal paling vital menurut Sandi untuk menangani COVID-19, khususnya di Indonesia.

Hal tersebut disampaikan Sandi dalam Ngopi Bareng Spesial Ramadhan: Misteri Jurus Jitu Ekonomi bersama Rocky Gerung dan Hendri Satrio, dengan panelis Ir. H. Kamrussamad, S.T., M.Si, Anggota Komisi XI DPR RI. Diskusi tersebut diselenggarakan oleh Lembaga Survei KedaiKOPI (Kelompok Diskusi dan Kajian Opini Publik Indonesia), Senin, 27 April 2020 pukul 20.30.

Sandiaga mengungkapkan, “Arah baru politik COVID-19 seharusnya mengubah suatu cara pikir kita, bagaimana politik ini bisa menjadi kendaraan untuk membangun bangsa. Kali ini para pejabat publik harusnya mengedepankan akal sehat untuk menyelamatkan kemanusiaan.”

Di mana cara untuk menghadapi sekaligus mempersiapkan diri pada kondisi setelahnya menurut Sandiaga, adalah dengan melakukan test sebanyak-banyaknya. besar tantangan yang kita hadapi.

“Kalau kita tidak melakukan testing dan pelacakan atau rapid rest/SWAB test/PCR. Kita tidak mungkin punya data yang
cukup untuk mengambil kebijakan”, tutur Sandi.

Kegamangan pengambilan kebijakan menurut Sandi didasarkan pada situasi ketidakpastian yang mendera Indonesia.

“Saya melihat COVID-19 ini menimbulkan ketidakpastian yang maha dahsyat. Salah satu kekhawatiran utama tentunya ekonomi. Pertama, tentunya gunakan kesempatan ini untuk kelola keuangan dengan metode agar dapat bertahan hidup. Kedua adaptasi dalam kondisi new normal yang memunculkan realita baru. Tetaplah optimis, badai pasti berlalu,” tutur Sandiaga.

Bagi Sandiaga, new normal adalah situasi yang takkan mungkin terelakkan, dan harus disikapi dengan persiapan yang maksimal

Rocky Gerung melengkapi penjelasan Sandiaga bahwa, “COVID-19 ini menimbulkan semacam kegemparan kultural, kegemparan ekonomi, kegemparan sosial. Di dalam kegemparan itu orang sebetulnya mau tau arah kebijakan.”

Bagi Rocky, semestinya kepemimpinan dapat memantapkan kebijakan dengan visi kerakyatan.
Permasalahannya menurut Rocky, “Tidak ada konsistensi dalam kebijakan. Ketiadaan konsistensi itulah yang menyebabkan suara publik itu diperdengarkan dengan sangat emosional.”

Rocky melengkapi dengan membandingkan Indonesia dengan negara lain, “Negara yang sukses menangani corona, pertama pemimpin yang mempunyai strong leadership tidak ada urusan dengan bentuk pemerintahan. Kedua ditentukan oleh sifat kepemimpinan yang berbasis pada ethics of care.”

Kamrussamad menimpali bahwa, “Presiden Jokowi punya leadership sehingga bisa mengendalikan negara di mana situasi semua negara tidak siap.”

“Hampir semua stakeholder dunia usaha sudah bertemu dengan Komisi XI. Kita mendapatkan kesimpulan yang sama, situasi ini bukan lagi berat tetapi maha dahsyat akan lahir sebuah ekosistem baru dalam tatanan ekonomi kita.” Imbuh Kamrussamad.

Kamrussamad juga membuat visi kebijakan jangka panjang, bahwa “Pasca COVID-19, kita harus menyiapkan rumah sakit-rumah sakit untuk menyelamatkan perbankan, perusahaan, debitur sektor usaha. Pekerjaan yang paling berat ke depannya adalah betul-betul menyiapkan diri untuk bisa bertahan dalam situasi sulit ini.”

Hendri Satrio mengakhiri diskusi yang diselenggarakan oleh Lembaga Survei KedaiKOPI dengan cuplikan hasil survei bahwa, “60,7% keluarga menyatakan ekonomi atau keuangan mereka itu setelah PSBB menurun jauh.” Angka tersebut menunjukkan tidak hanya visi ekonomi jangka panjang yang harus ditangani, namun juga apa yang di depan mata dan dihadapi rakyat.

Diskusi lengkapnya Anda bisa saksikan melalui laman Youtube Lembaga Survei KedaiKOPI: https://www.youtube.com/watch?v=FkZupnpDZ5M

Narahubung: Iqbal Ramadhan (+62 856-9562-4490)

Survei KedaiKOPI: PSBB Efektif, Tapi Kesadaran Cuci Tangan dan Tetap Di Rumah Rendah

Siaran Pers
Lembaga Survei KedaiKOPI

Jakarta, 22 April 2020

Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dipersepsikan efektif oleh warga Jabodetabek terutama terkait pembatasan moda transportasi (Commuterline/KRL, TransJakarta, dll). Responden yang berasal dari Jabodetabek menjawab dengan rata-rata 8.40 untuk elemen penerapan PSBB yang telah dilaksanakan di wilayah Jabodetabek.

Hal tersebut terungkap dalam “Survei Opini Publik Jabodetabek tentang PSBB dan Mudik di Masa Darurat COVID-19” yang diselenggarakan oleh Lembaga Survei KedaiKOPI (Kelompok Diskusi dan Kajian Opini Publik Indonesia). Survei diselenggarakan pada 14-19 April 2020, dengan mewawancarai 405 responden yang merespon dari 2324 data panel responden di Jabodetabek Lembaga Survei KedaiKOPI (response rate: 17.4%).

Direktur Eksekutif Lembaga Survei KedaiKOPI, Kunto Adi Wibowo mengatakan, “Publik Jabodetabek mempersepsi penerapan PSBB sebagai hal yang efektif, dengan rata-rata tertinggi: pembatasan transportasi (8.7), dan rata-rata terendah: pembatasan kegiatan keagamaan (8.0).” Namun ketika ditanya terkait upaya antisipasi COVID-19, dengan pertanyaan terbuka dan diperkenankan menjawab lebih dari satu, upaya yang telah dilakukan publik terbilang rendah. Terdapat 3 besar hal yang sudah mereka lakukan dari temuan pertanyaan tersebut, yaitu Rajin cuci tangan (32.6%), Di rumah saja (25.7%), dan Menggunakan masker (25.4%).

Kunto mengatakan, “Walaupun warga mengatakan PSBB efektif, namun ketika ditanya upaya antisipasi yang mereka lakukan persentasenya terbilang rendah. Top of Mind ketika mereka ditanyakan menunjuk rajin cuci tangan sebagai aktivitas yang paling mereka lakukan, dan itu-pun hanya 32,6%. Hal ini menunjukkan tindakan untuk pengantisipasian di level personal masih rendah”.

Angka responden Jabodetabek yang memercayai bahwa masyarakat Indonesia kebal pada COVID-19 terbilang rendah, hanya 7.4% yang setuju bahwa masyarakat Indonesia kebal COVID-19. Sedangkan 92.6% tidak setuju bahwa masyarakat kebal COVID-19, dengan rata-rata 2.28 dari skala 10.

“Persentase ketidaksetujuan akan kekebalan COVID-19 ini lebih tinggi bila dibandingkan dengan Survei Persepsi Publik Indonesia tentang Virus Corona yang diselenggarakan oleh KedaiKOPI sebelumnya yaitu pada 3-4 Maret 2020. Pada saat telesurvei yang diselenggarakan pada bulan Maret tersebut, hanya 65.1% menjawab tidak setuju bahwa masyarakat Indonesia kebal COVID-19, dan ada 34.9% yang setuju bahwa masyarakat Indonesia kebal COVID-19, dengan rata-rata 4.29 dari skala 10”, ujar Kunto.

Sedangkan, terkait kepanikan Kunto mengatakan, “39.3% dari responden menjawab panic buying adalah hal yang paling mungkin terjadi, sedangkan di urutan kedua, 22.7% menjawab timbulnya rasa takut/stigma negatif terhadap penderita serta petugas medis.” Seperti diketahui pemerintah selalu mengedepankan himbauan untuk tidak panik. Terkait temuan tersebut, Kunto mengatakan, “Namun, panik sebenarnya tidak sama dengan takut, justru takut diperlukan dalam penanganan krisis. Himbauan panik dapat dialihkan ke skema ketahanan dengan melibatkan komunitas.”

35.1% dari responden menjawab masih bekerja di luar rumah, dan 64.9% telah bekerja dari rumah (Work from Home). “Himbauan pemerintah untuk melakukan pekerjaan dari rumah, telah dipatuhi hampir 65% dari responden”, tutur Kunto.

60.7% responden menjawab penghasilan dan pendapatan dirinya atau keluarga lebih buruk setelah ada himbauan Work from Home atau PSBB, 38.8% responden menjawab sama saja, sedangkan hanya 0.5% yang menjawab lebih baik dari sebelumnya.

Kunto mengatakan, “terkait Kartu Prakerja, 94.3% dari responden mengatakan tidak memiliki kartu yang menjadi salah satu program kampanye Jokowi pada Pemilu 2019 kemarin, dan hanya 4.5% yang sedang dalam proses pendaftaran.” Sisanya, 1.2% menjawab telah memiliki kartu Prakerja. Kartu Prakerja sendiri mengalami kenaikan alokasi dari yang sebelumnya hanya 10 triliun menjadi 20 triliun, untuk penanganan dampak ekonomi COVID-19 ini.

94.8% responden menjawab tidak akan mudik, walaupun penghasilan dan kondisi keuangan dirinya memburuk. Namun 29% dari para pendatang atau bukan asli daerah Jabodetabek mengatakan akan mudik pada Hari Raya Idulfitri nanti, 29.5% menjawab Ragu-ragu dan 41.5% menjawab tidak akan mudik.

93.8% responden menjawab khawatir bahwa diri mereka akan tertular Virus Corona/COVID-19. Rata-rata kekhawatiran akan tertular adalah 8.67 dari skala 10. Sedangkan 34.1% publik Jabodetabek mengetahui di sekitar (rumah, tempat kerja, dan pergaulan) terdapat orang yang berstatus Pasien Positif Virus Corona/COVID-19 dan Pasien Dalam Perawatan (PDP).

Terdapat 72.6% responden yang optimis darurat COVID-19 dapat diatasi hingga 29 Mei 2020. Rata-rata menjawab 6.81 dari skala 10 terkait optimisme penyelesaian COVID-19 dalam waktu dekat tersebut.

Lebih detail terkait survei “Survei Opini Publik Jabodetabek tentang PSBB dan Mudik di Masa Darurat COVID-19” dapat diunduh melalui tautan berikut:

“Survei Opini Publik Jabodetabek tentang PSBB dan Mudik di Masa Darurat COVID-19”

Apabila ada pertanyaan lebih jauh, anda dapat menghubungi kontak berikut di bawah

Narahubung:
Justito Adiprasetio (+628179083336)
Kunto Adi Wibowo (+6282116657021)

KedaiKOPI: Ini Kata Publik Tentang Kepuasan Pada Presiden, Aksi Mahasiswa, UU KPK dan Rancangan UU Lainnya

Jakarta, 1 Oktober 2019. Lembaga Survei KedaiKOPI (Kelompok Diskusi dan Kajian Opini Publik Indonesia) merilis hasil survei nasional melibatkan 1194 responden dari seluruh Indonesia. “Nah, dari 1194 responden yang kami hubungi, kami berhasil berkomunikasi dengan 469 responden. Survei dilaksanakan 28-29 September 2019 dengan Margin of Error +/-4.53%. Kami mewawancarai responden tentang beberapa isu terakhir yang terjadi di Ibukota seperti aksi mahasiswa, aksi anak STM, respon publik terhadap revisi UU KPK dan UU lainnya hingga kepuasan serta kenyamanan terhadap kepemimpinan Presiden Jokowi saat survei dilaksanakan,” jelas Kunto Adi Wibowo, Direktur Eksekutif KedaiKOPI.

Kunto mengatakan bahwa 77% responden menyatakan setuju terhadap aksi mahasiswa DPR RI, 10.7% ragu-ragu dan 12.3% tidak setuju. “Tapi respon berbeda diberikan responden kepada aksi pelajar STM di DPR. Responden yang setuju ada 27.1%, ragu-ragu 18.8%, sementara 54.1% menyatakan tidak setuju,” tambah Kunto.

Selanjutnya, persepsi publik terhadap revisi UU KPK pun beragam, 55.2% responden berpendapat revisi UU KPK melemahkan KPK, 33.1% menolak berpendapat dan hanya 11.7% yang berpendapat revisi UU KPK akan memperkuat KPK. Menurut responden 3 hal yang memperkuat KPK adalah hadirnya Dewan Pengawas, status ASN untuk penyidik dan persetujuan Dewan Pengawas untuk pelaksanaan OTT. Sementara 3 hal yang melemahkan KPK menurut responden adalah juga hadirnya Dewan Pengawas, persetujuan Dewan Pengawas untuk pelaksanaan OTT dan status ASN untuk penyidik.

“Profil responden untuk isu revisi UU KPK ini juga menarik. Bila kita kelompokkan berdasarkan pemilih Jokowi-Ma’ruf pada Pemilu 2019 maka pemilih Jokowi-Ma’ruf yang berpendapat revisi UU KPK melemahkan KPK ada 48.3%, sementara yang berpendapat menguatkan KPK hanya 18.4% dan sisanya 33.3% tidak berpendapat. Nah, yang juga menarik Kelompok milenial usia 19-38 tahun ada 62.7% yang berpendapat revisi UU KPK melemahkan KPK sementara yang berpendapat menguatkan hanya 7.3%. Kali ini milenial berbeda dengan Presiden,“ kata Kunto.

Untuk isu RKUHP didapatkan hasil yang juga menarik. Ada 59.1% responden yang berpendapat revisi UU KUHP tidak segera disahkan, 11.9% berpendapat untuk segera disahkan dan sisanya tidak berpendapat.

Pemilih Jokowi-Ma’ruf yang berpendapat revisi UU KUHP tidak segera disahkan ada 55,3%, sedangkan yang merasa harus segera disahkan ada 17,5% dan sisanya tidak berpendapat.

Survei juga menanyakan kepercayaan publik pada beberapa lembaga negara yang sering menjadi bahan pembicaraan publik seperti DPR, KPK, Parpol, Polri, Presiden dan TNI. “Untuk lembaga negara KPK menempati posisi teratas (4,02)dari 6 lembaga yang ditanyakan mengungguli berturut turut di peringkat kedua TNI (3,82), Presiden (3,46), Polri (3,15), Partai Politik (2,51) dan DPR (2,39),” kata Kunto.

KedaiKOPI juga mengukur kepuasan dan kenyamanan publik pada Presiden Jokowi saat survei dilaksanakan. “Kepuasan dan kenyamanan publik kepada Presiden berada pada level di bawah 50%. Publik yang mengaku puas 46,5% sementara publik yang nyaman ada 49,5%. Bila kita kelompokkan pemilih Jokowi yang merasa puas terhadap kepemimpinan Jokowi sebesar 67.1%, sementara milenial usia 19-38 tahun yang puas terhadap kepemimpinan Jokowi hanya 40,8%,” tambah Kunto.

Hasil survei dapat diunduh di sini

***

Narahubung :

Justito Adiprasetio (+62 817-9083-336)

Kunto Adi Wibowo (+62 821-1665-7021)

 

Indonesia Cinta Papua, KedaiKOPI untuk Indonesia

Dalam 1,5 jam terdapat ratusan orang yang memeluk relawan Lembaga Survei KedaiKOPI dalam eksperimen sosial yang dilakukan di Car Free Day Jakarta, 1 September 2019. Relawan tersebut adalah Petra dari Sorong, Papua dan Lisa dari Jakarta. Jumlah tersebut melampaui ekspektasi yang dihipotesiskan oleh Lembaga Survei KedaiKOPI.

Menyikapi isu Papua yang sedang ramai, Lembaga Survei KedaiKOPI mengadakan eksperimen sosial untuk mencaritahu seberapa cinta warga Jakarta terhadap Papua dan harapan mereka tentang kondisi Papua ke depannya.

Kordinator acara “Indonesia Cinta Papua” dari Lembaga Survei KedaiKOPI, Latifani Halim menjelaskan “Saudara kita, Petra dari Sorong dan Lisa dari Jakarta memegang poster bertuliskan “Cinta Papua Rangkul Kami” dan “Indonesia Cinta Peluk Kami Jika Setuju”. Kami ingin tahu berapa banyak orang yang memeluk mereka. Kami takjub sekaligus bangga, ternyata jumlahnya bahkan melampaui ekspektasi kami.”

Tercatat sejak pukul 7.15 hingga 8.45, terdapat ratusan orang memeluk Petra dan Lisa. Jumlah tersebut belum termasuk ratusan orang lain yang berfoto dengan keduanya. Atensi masyarakat menunjukkan bahwa banyak warga Jakarta sangat peduli terhadap isu Papua, dan mereka menganggap Papua adalah bagian dari ikatan persaudaraan yang tak terpisahkan.

Lembaga Survei KedaiKOPI juga mewawancari 15 orang yang memeluk dua relawan untuk mendapatkan pernyataan langsung dari peserta Car Free Day. “Kita semua bersaudara” adalah kalimat yang paling sering muncul dalam wawancara tersebut.

Mereka juga memberikan harapan penuh bahwa isu Papua dapat terselesaikan, dan menginginkan saudara-saudara di Papua dapat hidup dalam kedamaian dan kesejahteraan. Indonesia adalah entitas yang dibangun atas dasar persaudaraan, kebersamaan dan kesejahteraan bersama.

“Salah satu visi dari setiap kegiatan KedaiKOPI adalah membuat indonesia menjadi lebih baik, termasuk meningkatkan rasa persaudaraan di Indonesia. Kami berharap Indonesia bisa terus harmonis”, pungkas Latifani.

CP:  Latifani Halim (0817-0098-800)

Pengalaman lebih penting dari Gaji Besar

Postingan Instagram Story yang mengaku sebagai fresh graduate lulusan Universitas Indonesia (UI) menjadi perbicangan hangat minggu ini. Postingan tersebut memuat ketidaksetujuaan dengan penawaran gaji yang ditawarkan sebuah perusahaan lokal kepadanya yaitu sebesar 8 Juta Rupiah. Jumlah tersebut dianggap terlalu kecil untuk dia yang merupakan lulusan UI. Memang keabsahan postingan tersebut hingga saat ini masih dipertanyakan. Akan tetapi, postingan tersebut telah berhasil menimbulkan perdebatan di dalam masyarakat.

Perdebatan terjadi di antara mereka yang setuju dan yang tidak setuju terkait postingan IG Story itu. Mereka yang tidak setuju memertanyakan apakah pantas mempertanyakan gaji yang jumlahnya sudah cukup tinggi untuk seorang yang baru saja lulus kuliah? Pertanyaan bersifat retorik tersebut dilengkapi dengan pendapat bahwa mencari pengalaman lebih penting dibandingkan dengan jumlah gaji untuk orang yang baru saja lulus kuliah. Berseberangan dengan hal tersebut, tak sedikit orang yang menyatakan bahwa hal tersebut pantas saja dilakukan sebagai penghargaan terhadap pendidikan yang sudah dicapai olehnya.

Lembaga Survei KedaiKOPI mengadakan poling di Instagram dan Twitter untuk mengetahui pendapat masyarakat tentang perdebatan ini pada 25 Juli 2019. Pertanyaan yang kami tanyakan adalah “Mana yang lebih penting untuk fresh graduate, mencari pekerjaan dengan gaji yang besar atau pekerjaan untuk mencari pengalaman terlebih dahulu?”. Hasil dari 122 responden menyatakan bahwa 66% responden memilih bahwa mencari pengalaman lebih penting untuk fresh graduate. Di sisi lain, sebanyak 34% responden menyatakan bahwa pekerjaan dengan gaji yang besar lebih penting.

Hasil poling ini memperlihatkan bahwa responden lebih banyak memilih pekerjaan dengan pengalaman terlebih dahulu yang lebih tepat para fresh graduate. Sebagai data pembanding, data BPS Februari 2019 menunjukan bahwa rata-rata gaji yang diterima oleh lulusan sarjana di Indonesia sebesar 4,36 Juta Rupiah. Tentu jumlah yang ditolak oleh pihak yang mengaku sebagai lulusan UI ini jauh lebih besar dibandingkan dengan rata-rata yang diterima oleh lulusan sarjana lainya di Indonesia.

Perkembangan Indeks Harga Konsumen/Inflasi September 2018

Senin (01/10), BPS (Badan Pusat Statistik) merilis laporan perkembangan Indeks Harga Konsumen/ Inflasi di Indonesia untuk bulan September 2018. Berdasarkan laporan tersebut, terjadi deflasi sebesar 0,18 persen dan inflasi sebesar 1,94 persen terhitung dari bulan Januari hingga September 2018. Terjadi deflasi di sebanyak 66 kota dari 82 kota IHK, dan inflasi di sebanyak 16 kota.

Pare-pare adalah kota dengan tingkat deflasi tertinggi yang mencapai hingga 1,59 persen dengan IHK sebesar 127,39. Sementara Tegal, Singkawang, Samarinda, dan Ternate adalah kota-kota yang memiliki tingkat inflasi paling rendah yakni masing-masing sebesar 0,01 persen dengan dan terendah terjadi di Tegal, Singkawang, Samarinda, dan Ternate masing-masing sebesar 0,01 persen dengan IHK masing-masing sebesar 129,95; 137,13; 137,45; dan 136,70.

Sementara inflasi, Bengkulu merupakan kota dengan tingkat inflasi tertinggi yakni sebesar 0,59 persen dengan IHK sebesar 142,79. Untuk kota dengan inflasi paling rendah adalah kota Bungo yakni sebesar 0,01 persen dengan IHK sebesar 131,25.

Deflasi dan inflasi ini kemudian terjadi disebabkan oleh tujuh elemen dari kelompok pengeluaran yakni: bahan makanan; makanan jadi; perumahan; sandang; kesehatan; pendidikan; serta transpor, komunikasi, dan jasa keuangan. Kelompok yang memiliki pengaruh terhadap deflasi adalah kelompok bahan makanan yakni sebesar 1,62 persen, serta kelompok transpor, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 0,05 persen.

Sementara kelompok pengeluaran yang mengalami kenaikan indeks dan memiliki pengaruh terhadap inflasi adalah kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau sebesar 0,29 persen; kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar sebesar 0,21 persen; kelompok sandang sebesar 0,27 persen; kelompok kesehatan sebesar 0,41 persen; dan kelompok pendidikan, rekreasi, dan olahraga sebesar 0,54 persen.

Sumber: BPS (Badan Pusat Statistik)

Jagokan AHY, Demokrat Klaim Tren Dunia Punya Pemimpin Muda

Wakil Ketua Dewan Kehormatan Partai Demokrat, Agus Hermanto melihat sosok Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) sebagai calon pemimpin yang mumpuni di Pilpres 2019. Sebab, menurutnya AHY memiliki seluruh kriteria untuk menjadi calon pemimpin nasional.

Agus mengatakan bahwa AHY mempunyai kriteria yang serupa dengan pemimpin-pemimpin dunia berusia muda. Ia menyebut AHY adalah seseorang yang gesit.

 

“Ini dunia kan trennya pemimpin yang muda yang energik yang gesit yang mumpuni. Itu semuanya dimiliki oleh mas AHY,” kata Agus di Gedung Nusantara III, Kompleks Parlemen, Rabu (11/7/2018).

Baginya, sosok Agus Harimurti Yudhoyono mampu memenuhi impian masyarakat yang menginginkan pemimpin muda untuk Pemilihan Presiden 2019 nanti. Hal itu dibuktikan dengan pendapat masyarakat yang diperolehnya saat berkeliling Indonesia.

“Karena masyakat juga menginginkan pemimpin nasional yg betul-betul energik, muda, berpengalaman dan mumpuni dan itu semuanya mas AHY memilikinya,” ujarnya.

Dirinya pun mengakui elektabilitas AHY kini terus berada dalam posisi puncak sebagai sosok cawapres idaman masyarakat.

“Memang rata-rata untuk popularitas ataupun elektabilitas dari mas AHY itu memang sekarang menempati posisi yang tertinggi untuk Wakil Presiden,” pungkasnya.

AHY Selebritis

Pengamat Politik dari Universitas Paramadina Hendri Satrio menyayangkan cara Partai Demokrat yang kini gencar mempromosikan AHY sebagai bakal calon wakil presiden (cawapres). Demokrat dinilai cenderung membuat Agus Harimurti Yudhoyono menjadi sosok selebritis.

Hendri mengatakan bahwa AHY tidak diberikan pengalaman berpolitik secara mendalam oleh Partai Demokrat. Hal itu yang membuat AHY dinilai masih memiliki mental yang lemah dalam berpolitik.

“Kan tidak diajarkan misalnya bergaulah dengan politisi-politisi muda bergaulah dengan aktivis-aktivis yang ada di lapangan bergaulah juga dengan para politisi-politisi yang ada di luar partainya dia,” kata Hendri dalam diskusi bertajuk ‘Sebulan Jelang Pendaftaran Capres: Koalisi (Bukan) Harga Mati?’ di Pulau Dua Restaurant, Jakarta Pusat, Selasa (10/7/2018).

Padahal Hendri melihat sosok AHY sebagai pribadi dengan mental militer yang sangat kuat namun saat terjun di dunia politik, AHY seolah tidak diberi kesempatan untuk terjun mendalami dunia politik secara luas.

“Misalnya, dia mau pidato kan teman-teman bapaknya semua yang diundang, ya, nggak usah ditepokin lah temen bapaknya. Coba kalau misalnya pidatonya di depan forum mahasiswa aktivis-aktivis gitu. Coba aja sehingga mental aktivisnya juga muncul,” pungkasnya.

 

Sumber: Suara.com

Loyalis Anis Matta Resah Anies Baswedan Maju Pilpres 2019

Politikus PKS Mahfudz Siddiq membeberkan kegelisahannya menjelang pendaftaran kontestan Pemilu Presiden (Pilpres) 2019. Kegelisahan politikus yang dikenal sebagai salah satu loyalis Anis Matta itu ditujukan kepada Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan yang didorong maju sebagai calon wakil presiden (cawapres).

Dalam surat terbukanya, Mahfudz menceritakan keresahannya saat melihat pemberitaan capres – cawapres di beberapa media. Dalam pemberitaan itu, nama Anies kerap kali disebut maju menjadi cawapres pada Pilpres 2019.

“Kenapa terselip rasa gelisah dan cemas dalam diri saya? Karena setelah mengikuti hiruk-pikuk berita di media, muncul pertanyaan di kepala saya: “Akankah saya kehilangan sosok Anies Rasyid Baswedan sebagai Gubernur DKI Jakarta yang telah saya pilih berama tiga jutaan warga lainnya?” kata Mahfudz dalam surat terbukanya yang dilansir Suara.com.

Pasalnya, dia Anis menjadi gubernur setelah proses Pilkada Jakarta 2017 yang disebut-sebut sebagai pilkada paling panas di Indonesia. Selain itu, Mahfudz mengaku menjadi saksi banyaknya warga DKI yang mati-matian mendoakan Anies agar terpilih menjadi Gubernur DKI.

“Bahkan saya menyaksikan bagaimana pada hari Rabu subuh, 19 April 2017, begitu banyak warga Jakarta yang menghadiri salat Subuh berjama’ah di masjid dan musala. Mereka bermunajat untuk kemenangan Bapak, sebelum menuju TPS memastikan hak pilihnya,” tulisnya.

Dengan melihat begitu besarnya dukungan warga DKI Jakarta pada Anies, Mahfudz mengharapkan kepada Anies untuk tidak melupakan dukungan warga DKI Jakarta serta tanggung jawabnya sebagai Gubernur DKI.

“Saya hanya bisa memanjangkan doa kepada Allah SWT agar Bapak Gubernur bersama Wakil Gubernur bisa terus mengemban amanah dan tugasnya hingga tuntas,” pungkasnya.

Keresahan Mahfudz sejalan dengan posisi PKS yang dinilai lemah menjelang Pilpres 2019 seperti analisis Direktur Eksekutif Kedai Kopi, Hendri Satrio. Hal itu tak lepas dari lobi intensif Partai Demokrat dengan menawarkan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).

Hendri mengaku sempat mendengar langsung dari Wakil Ketua Umum Partai Demokrat Syarief Hasan bahwa Prabowo Subianto telah sepakat memilih AHY sebagai cawapresnya saat menjadi narasumber di salah satu acara televisi. Menurut Hendri, apabila skenario Prabowo – AHY memang benar terjadi, maka PKS tidak akan mendapatkan efek apa-apa.

“Jadi kalau dukung Gerindra-Demokrat, PKS nggak akan bisa nambah suara. Hashtag 2019GantiPresiden kan yang munculin PKS, tapi di survei itu selalu ke Gerindra,” kata Hendri di acara diskusi bertajuk Sebulan Jelang Pendaftaran Capres: Koalisi (Bukan) Harga Mati? di Pulau Dua Restaurant, Jakarta Pusat, Selasa (10/7/2018).

Hendri melihat apabila nantinya koalisi yang tercipta ialah Partai Gerindra – Demokrat – PKS, maka PKS hanya berfungsi sebagai ketua pemenangan. Hal ini, kata dia, mirip seperti situasi saat Pilkada DKI Jakarta 2017

 

Sumber: News.solopos.com

Survei KedaiKOPI: Jokowi-Prabowo Kurang Aspek Religiusitas

Jakarta: Hasil survei terbaru Lembaga Survei Kelompok Diskusi dan Kajian Opini Publik Indonesia (KedaiKOPI) menemukan bahwa publik menilai kurangnya aspek karakter religiusitas pada sosok Joko Widodo dan Prabowo.

“Dari 12 kata sifat dan kepribadian, responden menilai Joko Widodo sosok santun, merakyat, dan humoris. Sedangkan Prabowo Subianto dipersepsikan berpengetahuan luas, tegas, dan mengobarkan semangat. Namun, keduanya dinilai rendah pada aspek religiusitas,” ujar peneliti KedaiKOPI Kunto Adi Wibowo seperti dilansir Antara, Rabu, 11 Juli 2018.

Dia mengatakan mayoritas responden atau sebesar 49,8 persen menjadikan aspek karakter dan kepribadian capres serta cawapres sebagai pertimbangan utama dalam memilih presiden dan wakil presiden.

Sumber: Medcom.id

Hasil Survei: Susi Pudjiastuti Teratas, Disusul Bu Risma

JAKARTA – Hasil survei Kelompok Diskusi dan Kajian Opini Publik Indonesia (KedaiKOPI) menyimpulkan, Gatot Nurmantyo penantang terberat Joko Widodo di Pilpres 2019 jika Prabowo Subianto tak maju sebagai capres.

Nama mantan Panglima TNI itu setidaknya disebut oleh 18,3 persen responden.

“Urutan kedua terdapat nama AHY (14,3 persen), Amien Rais (11 persen), Anies Baswedan (8 persen), Rizal Ramli (4,1 persen),” ujar peneliti KedaiKOPI Kunto Adi Wibowo di Jakarta, Rabu (11/7).

Menurut Kunto, ada sejumlah lain juga disebut Berpeluang maju sebagai penantang Jokowi, jika Ketua Umum DPP Partai Gerindra tak maju sebagai capres. Namun persentasenya sangat kecil. Rata-rata di bawah 4 persen.

Nama-nama itu antara lain Hary Tanoesoedibjo, Jusuf Kalla, Tri Rismaharini, SBY, dan Agum Gumelar.

Sementara itu terkait tokoh perempuan, Susi Pudjiastuti berada di posisi teratas paling berpeluang menjadi peserta Pilpres 2019.

“Susi didukung oleh 32,9 persen responden, lalu secara berturut-turut Tri Rismaharini, Sri Mulyani, dan Megawati,” kata Kunto.

 

Sumber: Thesunindonesia.com