Survei KedaiKOPI: Masyarakat Desa, Kaum Muda, dan Kalangan Perempuan Setuju Pemimpin Perempuan

Survei KedaiKOPI: Masyarakat Desa, Kaum Muda, dan Kalangan Perempuan Setuju Pemimpin Perempuan

Jakarta, 9 September 2022. Masyarakat rural dan kalangan generasi Z menyatakan dirinya setuju pemimpin dari kalangan perempuan. Selain itu kepemimpinan perempuan juga lebih disetujui oleh kalangan perempuan dibandingkan dengan laki-laki. Hal ini diungkapkan oleh peneliti senior Lembaga Survei KedaiKOPI, Ashma Nur Afifah pada diskusi publik dengan tajuk “Siapa Ingin Presiden Perempuan?” di kawasan Menteng, Jakarta Pusat.

Ashma menjelaskan bahwa pandangan masyarakat desa lebih terbuka dengan Presiden perempuan dibandingkan masyarakat yang tinggal di daerah perkotaan Selain itu, lebih banyak juga masyarakat desa yang merasa senang jika Puan Maharani maju menjadi Presiden dibandingkan masyarakat perkotaan. Puan Maharani juga dianggap sebagai perwakilan dari kelompok perempuan yang juga merindukan sosok perempuan untuk menjadi pemimpin Indonesia di masa depan.

Analis komunikasi politik, Hendri Satrio mengajak Indonesia untuk dapat belajar dari PDI Perjuangan terkait pemimpin perempuan. “Untuk pemimpin perempuan Saya ajak Indonesia belajar dari PDI Perjuangan. Megawati dan saat ini Puan Maharani mampu berada dalam panggung sama sebagai pemimpin dan calon pemimpin Indonesia” ujar Hensat sapaan akrab Hendri Satrio.

Hensat menambahkan bahwa PDI Perjuangan harus berani untuk mencalonkan Puan Maharani untuk maju sebagai calon presiden. “Sebagai pemegang boarding pas Pilpres 2024, Puan harus maju sebagai calon Presiden, Iya calon RI 1 bukan cuma Wapres” ungkapnya.

Bagi Hendri, Puan Maharani tidak bisa disamakan dengan tokoh lain. Puan Maharani adalah satu-satunya perempuan yang memiliki tiket untuk maju pada Pilpres 2024 tanpa perlu berkoalisi dengan partai lain. “Dia (Puan Maharani) bisa bebas memilih siapapun wakilnya. Dan yang perlu diingat, Puan Maharani selalu tegak lurus dengan keputusan Parpolnya, dia tahu keputusan siapa calon presiden dari PDI-P hanya bisa diputuskan oleh ketua umum PDI-P, Megawati Soekarnoputri” tegas Hendri.

Lebih jauh sebagai Parpol pemenang Pemilu 2019, PDI Perjuangan memiliki peluang besar untuk mencalonkan Puan Maharani tanpa perlu berkoalisi dengan Parpol lain. “Kita harus hormati posisi PDI Perjuangan sebagai pemenang Pemilu dan pemilik Boarding Pass itu. Jadi, Puan bila kelak resmi diumumkan PDI Perjuangan untuk maju sebagai kandidat harus jadi Calon Presiden, jangan cuma Wapres” tutur Hensat.

Direktur Eksekutif Perludem, Khoirunnisa Nur Agustyati mengomentari hasil survei tersebut. Ninis (sapaan akrab Khoirunnisa) mengatakan, dirinya mengaku senang dengan temuan yang didapat oleh KedaiKOPI. Bagi Ninis survei ini merupakan pertanda baik bahwa saat ini masyarakat Indonesia mulai membicarakan pemimpin perempuan.

Dirinya juga mengingatkan mengenai masalah aksesabilitas perempuan dalam perpolitikan di Indonesia. “Akses yang dimiliki perempuan dalam hal kepemimpinan nasional masih belum sebesar yang dimiliki oleh kalangan laki-laki. Padahal menurut survei ini perempuan mendapatkan posisi tersendiri bagi mereka yang berada di derah rural, dan di daerah banyak sekali sekolah-sekolah politik bagi perempuan dan aktivis dari kalangan perempuan” ungkapnya. Dirinya berharap partai politik bisa semakin memfasilitasi kaum perempuan untuk maju ke kancah eksekutif.

Pemimpin perempuan disukai oleh masyarakat Indonesia karena mereka juga sudah mulai terbuka dengan kepemimpinan perempuan. “Pemimpin daerah sudah banyak perempuan, menteri dan lain-lain juga sudah banyak perempuan, jadi akan sangat mungkin bila kedepan ada Presiden dari kalangan perempuan juga” tambah Hendri.

Perempuan Indonesia terbukti mampu memimpin dengan sangat baik. Megawati Soekarnoputri merupakan contoh kuat bagaimana kepemimpinan perempuan dapat membangkitkan sebuah partai politik yang elektabilitas awalnya hanya 3% menjadi 33% dalam waktu yang cukup cepat. Hal ini diungkapkan oleh 

Hendri menambahkan masyarakat Indonesia sudah mulai terbuka dengan peran politik dari kalangan perempuan. “Pemimpin daerah sudah banyak perempuan, menteri dan lain-lain juga sudah banyak perempuan, jadi akan sangat mungkin bila kedepan ada Presiden dari kalangan perempuan juga” tambah Hendri.

Berbicara mengenai pemimpin perempuan, sosok Puan Maharani adalah satu-satunya nama tokoh perempuan yang menempati posisi atas dalam hal elektabilitas. Hasil sigi dari Lembaga Survei KedaiKOPI menemukan 6 calon presiden perempuan yang disebutkan oleh pemilih dalam pertanyaan terbuka tentang elektabilitas. “Ada nama Puan Maharani (9,6%), Megawati Soekarnoputri (0,7%), Susi Pudjiastuti (0,6%), Khofifah Indar Parawansa (0,6%), Tri Rismaharini (0,5%), dan Sri Mulyani (0,2%),” ujar Ashma, peneliti Senior dari Lembaga Survei KedaiKOPI.

Dari hasil survei tersebut, nampak elektabilitas calon presiden perempuan semakin menguat terutama untuk Puan Maharani. Nama-nama tokoh laki-laki seperti Ganjar Pranowo (26%), Prabowo Subianto (18%), Anies Baswedan (14,5%), Ridwan Kamil (7,7%) juga terdeteksi dalam survei ini.

“Ketika kami simulasikan lebih lanjut dengan pertanyaan tertutup 19 tokoh, nama-nama capres perempuan memiliki tren penguatan dengan Puan Maharani mendapatkan keterpilihan sebesar 11,3%, Susi Pudjiastuti 1,6%, Tri Rismaharini 1,4%, Khofifah Indar Parawansa (1,3%), dan Sri Mulyani Indrawati (0,6%),” lanjut Ashma.

Hasil perhitungan elektabilitas dari simulasi 4 Presiden dengan Puan sebagai satu-satunya tokoh Perempuan menunjukkan bahwa elektabilitasnya naik menjadi 13,9%. Telaah lebih lanjut menemukan bahwa dibandingkan dengan ketiga kandidat lain yaitu Anies Baswedan, Ganjar Pranowo dan Prabowo Subianto, pemilih Puan Maharani didominasi oleh masyarakat yang tinggal di daerah rural (19,1%) dibandingkan yang tinggal di Urban (9,2%). 

Hal ini tidak lepas dari pandangan masyarakat desa (57,6%) yang lebih terbuka dengan adanya Presiden perempuan dibandingkan masyarakat yang tinggal di daerah perkotaan (53,6%). Selain itu, lebih banyak juga masyarakat desa yang merasa senang jika Puan maju menjadi Presiden (54%) dibandingkan masyarakat perkotaan (46,4%). Tegas dan berani (23,4%), Pintar/Cerdas (13,1%), berkualitas bagus/baik (12,4%) menjadi alasan para pemilih untuk mendukung Puan menjadi Presiden. Puan juga dianggap sebagai perwakilan dari perempuan (11,6%).

Opini mengenai karakter Puan di kalangan pendukungnya cocok dengan temuan lain survei ini bahwa tegas dan berwibawa (25,3%) menjadi karakter pertama yang dinilai harus dimiliki Presiden Perempuan. Selain itu, kekuatan basis PDIP pada masyarakat desa (28%) juga dinilai berkontribusi pada pemilih Puan. 

Salah satu temuan penting dalam survei bertajuk “Survei Opini Publik Pada Pemimpin Perempuan” ini adalah 53,8% pemilih mengatakan bahwa pilihan presiden mereka akan berubah. Namun lebih banyak masyarakat desa yang tetap loyal pada pilihannya (47,7%) dibandingkan masyarakat urban (44,9%). “Puan Maharani juga diuntungkan karena 59,1% pemilihnya tetap loyal (menyatakan tidak akan merubah pilihannya) memilih Puan dan persentase ini lebih tinggi dibandingkan pendukung Anies, Ganjar dan Prabowo”, tukas Ashma.

Secara umum survei ini menemukan bahwa penerimaan publik terhadap presiden perempuan mengalami peningkatan dari 34,2% pada bulan November 2021 menjadi 55,5% pada Agustus 2022. Namun, penerimaan presiden perempuan masih lebih rendah dibanding penerimaan publik terhadap anggota legislatif perempuan (76%), bupati/walikota perempuan (70,8%), Gubernur perempuan (68%), dan wakil presiden perempuan (64,7%). Walau begitu, dengan semakin dikenalnya prestasi para pemimpin perempuan dalam menangani Covid-19 dan keyakinan masyarakat terhadap kemampuan pemimpin perempuan mengatasi permasalahan di Indonesia, maka kemunculan Presiden perempuan bukan hal yang mustahil.

Direktur Eksekutif Perludem, Khoirunnisa Nur Agustyati mengomentari hasil survei tersebut. Ninis (sapaan akrab Khoirunnisa) mengatakan, dirinya mengaku senang dengan temuan yang didapat oleh KedaiKOPI. Bagi Ninis survei ini merupakan pertanda baik bahwa saat ini masyarakat Indonesia mulai membicarakan pemimpin perempuan.

Dirinya juga menyoroti masalah aksesabilitas perempuan dalam perpolitikan di Indonesia. “Akses yang dimiliki perempuan dalam hal kepemimpinan nasional masih belum sebesar yang dimiliki oleh kalangan laki-laki. Padahal menurut survei ini perempuan mendapatkan posisi tersendiri bagi mereka yang berada di derah rural, dan di daerah banyak sekali sekolah-sekolah politik bagi perempuan dan aktivis dari kalangan perempuan” ungkapnya. Dirinya berharap partai politik bisa semakin memfasilitasi kaum perempuan untuk maju ke kancah eksekutif

Survei Opini Publik Pada Pemimpin Perempuan diselenggarakan oleh Lembaga Survei KedaiKOPI pada 3-18 Agustus 2022 di 34 provinsi di Indonesia. Sebanyak 1197 responden dipilih secara acak dengan menggunakan metode multistage random sampling dengan margin of error ±2,89% pada tingkat kepercayaan 95%. Wawancara dilakukan secara tatap muka dengan menggunakan Computer Assisted Personal Interviewing (CAPI). *

Facebook
WhatsApp
X
LinkedIn

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *